Latest Post
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Hidup Sederhana Bermartabat Dengan Budaya Simalungun


Sore hari, jika kita menuju pematang raya, kita dapat melihat banyak penjual jeruk yang menggelar dagangan nya dengan tenda tenda. Jeruk raya yang dijual rata rata langsung di ambil dari ladang nya, terasa manis dan segar bahkan bisa di petik langsung. Beberapa mobil mewah terlihat berhenti untuk menimbang dan berbelanja satu dua kilo jeruk. Satu tenda yang berbeda dari yang lainnya adalah sopou jeruk milik Amri Sumbayak yang berada di Merek Raya. Sopou tersebut merupakan hasil kreasi pemiliknya, khas simalungun seperti yang dapat kita lihat di rumah bolon pematang purba. 

Amri Sumbayak sendiri yang membuatnya dengan mencari bahan bahan dari bambu dan kayu yang ada di sekeliling nya, tampak sederhana tapi terlihat anggun dengan ada nya pinar (ornament) simalungun di setiap tiang dan atap. Ketika Tim Komunitas Jejak Simaloengoen bertanya tentang motivasi apa yang membuat diri nya mau membuat sopou khas simalungun, ia menyatakan bahwa ia sudah hobby dan tak bisa berhenti berkarya. “Sudah lama aku belajar mar uhir, di kepala ku selalu saja melintas banyak ide ide, tak pernah berhenti dan ingin mencipta ragam uhir simalungun begitu saja” jawabnya sederhana. Bakat kata orang tua. Lantas, ia tak pernah berpikir panjang tentang biaya pembuatan sopou yang nyaris jauh harga, tidak sesuai antara modal dan keuntungan dari menjual dagangan jeruk.



Amri Sumbayak sejak muda sudah memiliki minat yang tinggi terhadap seni uhir (ornament) simalungun yang dia pelajari secara otodidak. Dengan hanya berbekal pengalaman belajar dari orang tua pendahulu, satu buah buku panduan uhir, ia memiliki intuisi untuk menempatkan beragam jenis uhir dengan komposisi warna dan corak yang tepat. Ia sering di ajak untuk membantu membuat uhir di gedung milik instansi swasta atau pemerintah. Tapi semenjak ada pergantian proyek dengan datang nya pemborong baru, ia tidak mendapat order untuk ikut lagi bekerja.

“Kalau tidak mang-uhir, aku berladang jeruk lah” tambah nya. Hidup serba pas dan sederhana tidak menghalangi Amri Sumbayak untuk terus berkarya. “Sopou ini lah hasil karya ku, masih banyak lagi sebenar nya di kepala ini mau mau menambah corak dan ornament, belum lagi kepala horbou nya. Tapi ku tunda dulu karena kurang dana. Ini baru separuh selesai. Isteri ku sampai marah marah, habis uang untuk membuat sopou. Itu pun tak selesai selesai, masih ada saja yang ditambah…ini lah ..itu lah…” ungkapnya tertawa.
Hidup memang aneh dan tidak selalu di ukur dengan ekonomi. Kita dapat melihat, sesuatu yang berbeda dari sosok keluarga sederhana Amri Sumbayak. Kekayaan budaya dan seni simalungun telah mengisi dan mengalir dari dalam hati dan darah nya. Menjaga martabat, bahwa ia memiliki idealisme di tengah tengah keterbatasan dan ia tidak mau diri nya dihitung dengan uang. 



Berkarya walau sederhana selalu mendatangkan kebahagiaan. Maju lah genius lokal dan seniman seniman simalungun…horas….


 

Gonrang Simalungun

Musik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan. Dari semua karya seni, mungkin sekali musiklah yang paling mempengaruhi tradisi budaya untuk menentukan patokan-patokan sosial dan patokan-patokan individu, mengenai apa yang disukai dan apa yang diakui. Musik dapat mencerminkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip umum yang mendasarinya, yang menghidupkan kebudayaan tersebut secara menyeluruh.

Gonrang (istilah bahasa Simalungun untuk “gendang”) salah satu alat musik dari daerah Simalungun, yang telah lama ada dan berkembang di daerah Simalungun. Musik gonrang tidaklah hanya apresiasi seni semata, tetapi juga mau memperlihatkan makna dan fungsi yang sangat mendalam bagi kehidupan masyarakat Simalungun khususnya. Makna dan fungsi gonrang terwujud sebagai suasana pengungkapan hati, sebagai sarana hiburan, sebagai sarana komunikasi. Musik gonrang juga sebagai representasi simbolis yang mencerminkan nilai-nilai, pengaturan kondisi sosial dan perilaku kultur lainnya serta sebagai peneguh ritus-ritus keagamaan dan ikatan sosial.

Maksud tulisan ini adalah untuk membahas kelima fungsi gonrang Simalungun yang disebutkan diatas.

Fungsi Musik gonrang dalam komunitas masyarakat simalungun:

1. Sebagai pengungkapan suasana hati
Dimanapun di dunia ini, tampak jelas bahwa musik mempunyai peran yang kuat dalam mengungkapkan suasana hati seseorang. Pengungkapan suasana hati itu dapat bersifat spesifik seperti halnya pada lagu yang bernuansa politis maupun lagu-lagu percintaan yang mau mengungkapkan perasaan dan kepuasan diri. Apapun jenis suasana hati yang diekspresikan dalam proses pembuatan musik, akan menggugah reaksi dari para pendengar dan reaksi itu tidak lepas dari pementasannya. Maksudnya adalah nuansa lagu yang dibawakan disesuaikan dengan suasana pesta. Sebagai contoh, untuk pesta perkimpoian, pesta panen dan pesta meriah lainnya tentu sangat berbeda nuansa musiknya dengan suasana kematian atau kesedihan.

Salah satu faktor yang dianggap penting dalam menentukan reaksi suasana hati terhadap musik di kalangan masyarakat Simalungun adalah tempo musik yang dibawakan. Untuk menunjukkan suasana gembira, maka dipakai tempo sedang hingga tempo cepat. Sedangkan tempo lambat umumnya dipakai untuk yang berhubungan dengan hal-hal musibah, kekecewaan, kesedihan dan kerinduan hati. Banyaknya lagu-lagu sedih di daerah Simalungun dan digunakannya istilah inggou menggambarkan makna suasana hati dari lagu-lagu tersebut serta persepsi masyarakat Simalungun terhadap lagu-lagu tersebut. Pengungkapan perasaan mungkin paling mudah dan sederhana untuk difahami dari lirik yang dikandungnya.

Para pemain musik gonrang mempunyai peran penting dalam suasana ini. Para pemusik menjadi pemicu dalam memulai dan memfasilitasi pengungkapan perasaan yang sesuai untuk masing-masing situasi dengan cara “menghidupkan” gual (lagu yang dimainkan pada ansambel musik gonrang) yang dibawakan. Sebagai contoh, dalam tortor sombah (tortor = tarian, sombah = sembah) dimulai oleh pihak boru (orang atau klan yang menjadi pihak penerima istri kepada yang bersangkutan) dan mengarahkan kepada pihak tondong (orang atau klan yang menjadi pihak pemberi istri dari yang bersangkutan).

Sikap sembah diwujudkan dengan mengatupkan telapak tangan dengan ujung jari menghadap ke atas dan disentuhkan pada dahi, dengan sikap seperti ini pihak boru menghampiri pihak tondong. Sambil menarikan tortor sombah dihadapan pihak tondong, pihak boru memohonkan kasih sayang yang manja dari pihak tondong. Maka kerendahan hati merupakan makna dari inti tarian yang dibawakan oleh boru yang diungkapkan dalam konteks tarian dan musik yang dibawakan.

2. Sebagai sarana hiburan
Salah satu fungsi musik gonrang bagi masyarakat Simalungun adalah sebagai sarana hiburan. Karena kurangnya kesempatan untuk menikmati suasana istirahat dari kerja, maka pada saat pesta merupakan kesempatan untuk beristirahat dari aktivitas kerja. Pesta merupakan salah satu bentuk acara selingan. Ada sejumlah pesta yang dilaksanakan setiap tahun, yang termasuk di dalamnya yaitu Manumbah (penyembahan tempat keramat maupun arwah para nenek moyang).

Ada pesta yang diselenggarakan pada saat-saat khusus : pesta palaho/paroh boru (pesta pernikahan), pesta mangalo-alo tamuei (pesta penyambutan tamu atau undangan istimewa), mamongkot jabu (selamatan memasuki rumah baru) dan masih banyak kesempatan lain yang dijadikan suasana pesta. Salah satu kebiasaan dalam berpesta adalah mengundang antara kampung yang satu dengan kampung yang lain yang memiliki ikatan hubungan tondong, boru dan sanina (mereka yang berasal dari marga dan sub-marga yang sama dengan yang bersangkutan) untuk memeriahkan pesta tersebut.

Pada pelaksanaan pesta tersebut, biasanya para undangan dengan sabar mengikuti acara, khususnya pada acara adat penting dan menunggu sampai pada kesempatan mereka untuk menari. Salah satu kebiasaan pada saat menari, para undangan akan meminta gual yang menjadi kesukaan mereka (umumnya untuk pesta-pesta meriah). Kaum muda-mudi, karena belum mendapat posisi dalam masyarakat biasanya baru mendapat giliran untuk menari pada akhir-akhir acara. Untuk mereka, ini adalah kesempatan untuk bersosialisasi satu sama lain dan kesempatan untuk belajar menari pada pesta-pesta resmi.

Selain pada kegiatan adat dan tradisi musik gonrang yang disebutkan diatas, musik merupakan sarana hiburan pada kesempatan lain. Para warga, khususnya kaum pria, suka berkumpul pada malam hari sambil bernyanyi dan memainkan alat musik seperti : gitar, seruling, harmonika dan alat musik lainnya sebagai sarana hiburan.

3. sebagai sarana komunikasi
Para ahli musik telah mengakui fungsi kesenian musik adalah sebagai sarana komunikasi. Lewat nuansa musik yang dibawakan, mereka mau mengkomunikasikan seluruh perasaannya secara simbolis, baik yang menggembirakan maupun yang sedih. Nuansa kesedihan, kekecewaan dan kesepian biasanya diungkapkan dengan lirik dan bunyi lagu-lagu percintaan maupun lagu-lagu perpisahan. Kita akan lebih merasakan perasaan hati seperti ini pada sejumlah gual yang bertempo lambat. Bunyi musik juga dapat menyajikan suasana hati tertentu yang dapat membantu untuk mengungkapkan perasaan hati dan inti dari lirik yang dinyanyikan.

Selain itu, musik gonrang juga mau mengkomunikasikan identitas etnis. Sebagai salah satu dari sekian banyak kelompok etnis di Indonesia, masyarakat Simalungun yang tertarik pada tari-tarian dan musik tradisionalnya, sangat menyadari keunikan musik mereka, baik di dalam maupun di luar tradisi gonrang. Pada acara-acara silaturahmi, sebagian dari anggota masyarakat sering muncul “nasionalisme primitif kesukuan” dengan musik, tarian dan adat sebagai titik tolak semangat. Pada acara seperti ini kerap kali sangat membantu penyebaran musik dan tari-tarian Simalungun, yang mempengaruhi musik dan tari-tarian nasional Indonesia. Dengan demikian, musik Simalungun merupakan suatu acara guna mengkomunikasikan karakter dan kebanggaan etnis mereka.

4. Sebagai Representasi Simbolis
“Musik mencerminkan nilai-nilai, pengatur kondisi sosial dan perilaku kultur lainnya.”
Musik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan. Dan sebagaimana aspek-aspek kebudayaan lainnya, musik niscaya akan mencerminkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip umum yang mendasarinya, yang menghidupkan kebudayaan tersebut secara menyeluruh.

Ansambel musik gonrang mempunyai hubungan erat dengan struktur adat. Status para pemain musik dalam suatu ansambel musik gonrang didasarkan atas jenis alat musik yang dimainkannya. Si peniup sarunei (alat musik tiup yang memiliki tujuh buah lubang jari) selalu diakui sebagai pemimpin di antara mereka (secara musik maupun secara adat). Ia mempunyai peranan yang sangat besar dalam menentukan ansambel musik yang akan dimainkan. Menurut adat juga, bila pihak yang meminta gual memberikan penghargaan maka si peniup sarunei-lah yang harus menerima penghargaan tersebut. Dalam hal pendapatan di antara anggota pemain musik, ia juga yang akan mendapat imbalan yang lebih besar.

Tingkatan kedua yaitu para penabuh ansambel gonrang (gonrang si dua-dua atau gonrang bolon). Untuk gonrang si dua-dua umumnya hanya dimainkan satu atau dua orang saja, sedangkan untuk gonrang bolon umumnya dimainkan dua atau tiga orang. Mereka ini menabuh gonrang sedemikian rupa sehingga mampu memainkan gual yang dimintakan dengan mengikuti pola irama dari sarunei. Pertingkatan di antara penabuh hampir tidak ada, namun umumnya penabuh gonrang yang lebih mahir dalam memainkannya diakui sebagai yang menentukan.

Tingkatan yang ketiga yaitu para pemukul gong dan mongmongan (dua buah gong kecil yang digunakan sebagai tanda bunyi kolotomis). Meskipun musik dapat dimainkan tanpa didampingi oleh pemukul gong dan mongmongan, tetapi umumnya bagian ini juga selalu diikutkan. tugas mereka adalah membawakan kerangka dari gual tersebut, yang tujuannya untuk menambah nilai rasa dan tekanan yang menetap pada gual yang dimainkan. Sekali mereka mendapat pola yang pas dari gonrang dan sarunei, tugas mereka hanya mengulangi pola tersebut sampai gual berakhir.

Pertingkatan pada pemeran ansambel musik gonrang juga mempunyai hubungan dalam kelompok adat Simalungun. Sebagaimana pemain sarunei adalah sebagai pemimpin diantara pemain ansambel lainnya, maka kelompok tondong menduduki posisi sebagai pemimpin pada acara-acara adat (juga dalam hidup sehari-hari). Kemudian diikuti oleh kelompok boru sebagai kelompok kedua yang sangat erat hubungannya dengan tondong. Pihak tondong senantiasa memperhatikan dan memperlakukan boru-nya dengan baik dan bahkan memberikan berkat agar mereka senantiasa hidup sejahtera. Kelompok ketiga adalah kelompok sanina (keanggotaan marga dan sub marga yang berpesta). Sebagaimana pemukul gong dan mongmongan yang menambah nilai rasa pada ansambel musik gonrang, kelompok sanina ini merupakan penolong khususnya saat mempersiapkan acara pesta, pendamping bagi boru dan bagian dari boru itu sendiri.

Walaupun pengelompokan tondong, boru dan sanina dalam struktur adat mempunyai hubungan yang sangat erat dengan si peniup sarunei, penabuh gonrang dan pemukul gong dan mongmongan dalam ansambel musik gonrang, tetapi di antara kelompok ini praktisnya masih terdapat perbedaan. Pada ansambel musik gonrang, para pemainnya sangat jarang saling “bertukar posisi” atau tukar peran dalam memainkan ansambel musik gonrang.

Hanya dimungkinkan antara penabuh gonrang dengan pemukul gong dan mongmongan yang saling bertukar posisi. Pada konteks adat, posisi seseorang ditentukan oleh ikatan hubungan dengan pihak yang menyelenggarakan pesta. Dalam suatu pesta umpamanya, posisi seseorang dapat sebagai tondong namun pada saat pesta lain, dapat sebagai boru atau sanina. Jadi, seseorang dapat menempati ketiga posisi yang ada dalam kelompok ini. Dengan demikian akan ada keseimbangan, karena semua orang berkesempatan untuk memerankan salah satu dari ketiga kelompok ini dalam suatu pesta.

5. sebagai peneguh ritus-ritus keagamaan dan ikatan sosial
Salah satu kebiasaan baik bagi masyarakat Simalungun dan seluruh masyarakat Batak umumnya adalah adanya kebiasaan martutur (menelusuri silsilah satu sama lain). Hal ini dilakukan bagi mereka yang belum saling mengenal satu sama lain. Setelah saling mengetahui silsilah masing-masing, mereka akan dapat memposisikan diri satu sama lain berdasarkan aturan adat mengenai tata cara ikatan hubungan antara tondong, boru dan sanina. Ini merupakan norma yang mendukung terciptanya ikatan sosial yang kuat dalam kalangan masyarakat Simalungun.

Adat dan kelompok adat adalah unsur-unsur yang paling sentral dan kuat di kalangan masyarakat Simalungun, maupun masyarakat Batak umumnya. Kekuatan adat tersebut ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari melalui acara seperti tari-tarian adat yang dipentaskan hampir pada setiap pesta. Gual yang dibawakan pada acara tersebut pada umumnya gual yang mengingatkan pihak tondong, boru dan sanina akan tata cara keharmonisan sikap dan tindakan diantara mereka. Sikap dan kasih sayang serta tindakan mencurahkan berkat harus dipraktekkan dalam konteks sosial lingkup suasana gual yang dibawakan. Musik gonrang dijadikan sebagai sarana untuk menjaga kelangsungan nilai-nilai kultural dan keagamaan. Musik gonrang menjadi alat untuk pengikat dan peneguh ikatan sosial dan upacara-upacara kultural maupun keagamaan yang dianggap penting oleh masyarakat Simalungun.


sumber: http://www.mycultured.co.cc
 

Festival Lagu Batak Se-Kalimantan Barat

DEWAN Pimpinan Daerah (DPD) Kerukunan Masyarakat Batak (Kerabat) menyelenggaralan Festival Vokal Group Lagu–lagu Batak yang pesertanya terbuka untuk umum. Final acara yang akan digelar di Pontianak Convention Centre (PCC) pada 19 Oktober 2008 pukul 19.00. Acara ini dimeriahkan oleh penampilan khusus Joy Destiny Tiurma Tobing atau populer dengan panggilan Joy Tobing. Acara ini diikuti tidak hanya diikuti oleh etnis batak toba, batak simalungun, batak karo, batak nias, batak pakpak, dan batak mandailing saja, tapi juga diikuti oleh etnis lain seperti dayak ,cina dan melayu. Nah, special buat tulang ku “tomy saragih” ku berikan sebuah foto sepasang kekasih dari tanah Simalungun. Yang telah sukses menutup Festival Vokal Group Lagu–lagu Batak seKalBAr ini dengan sebuah tot-tor Simalungun hasil asuhan boru Damanik na jago on… panogolan mu satu nee……hehehe.



 

PARTUTURANNI SIMALUNGUN

Tuturbisa diterjemahkan sebagai panggilan yang digunakan masyarakat Simalungun sebagai sebutan untuk/kepada orang tertentu.

Perkerabatan Simalungun
Orang Simalungun tidak terlalu mementingkan soal “silsilah” karena penentu partuturan di Simalungun adalah “hasusuran” (tempat asal nenek moyang) dan tibalni parhundul (kedudukan/peran) dalam horja-horja adat (acara-acara adat). Hal ini bisa dilihat saat orang Simalungun bertemu, bukan langsung bertanya “aha marga ni ham?” (apa marga anda) tetapi “hunja do hasusuran ni ham (dari mana asal-usul anda)?"
Hal ini dipertegas oleh pepatah Simalungun “Sin Raya, sini Purba, sin Dolog, sini Panei. Na ija pe lang na mubah, asal ma marholong ni atei” (dari Raya, Purba, Dolog, Panei. Yang manapun tak berarti, asal penuh kasih). Kenapa? Karena seluruh marga raja-raja Simalungun itu diikat oleh persekutuan adat yang erat oleh karena konsep perkawinan antara raja dengan “puang bolon” (permaisuri) yang adalah puteri raja tetangganya. Seperti raja Tanoh Djawa dengan puang bolon dari Kerajaan Siantar (Damanik), raja Siantar yang puang bolonnya dari Partuanan Silappuyang, raja Panei dari putri raja Siantar, raja Silau dari putri raja Raya, raja Purba dari putri raja Siantar dan Silimakuta dari putri raja Raya atau Tongging.
Adapun Perkerabatan dalam masyarakat Simalungun disebut sebagai Partuturan. Partuturan ini menetukan dekat atau jauhnya hubungan kekeluargaan (pardihadihaon), dan dibagi kedalam beberapa kategori sebagai berikut:

1. Tutur Manorus / Langsung
Perkerabatan yang langsung terkait dengan diri sendiri.
Ompung: Orangtua Ayah atau Ibu, Saudara (Kakak/Adik) dari orangtua Ayah atau Ibu
Bapa/Amang: Ayah
Inang: Ibu
Abang: Saudara lelaki yang lahir lebih dulu dari kita.
Anggi: Adik lelaki; saudara lelaki yang lahir setelah kita.
Botou: Saudara perempuan (baik lebih tua atau lebih muda).

Amboru: Saudara perempuan Ayah; Saudara perempuan pariban Ayah; Saudara perempuan Mangkela: Bagi wanita: orangtua dari Suami kita; Amboru dari suami kita; atau mertua dari Saudara Ipar perempuan kita.
Mangkela: Suami dari saudara perempuan dari Ayah
Tulang: Saudara lelaki Ibu; Saudara lelaki pariban Ibu; Ayah dari besan
Anturang: Istri dari Tulang; Ibu dari besan
Parumaen: Istri dari Anak; Istri dari Keponakan; Anak Perempuan dari Saudara Perempuan Istri; Amboru dan Mangkela kita memanggil istri kita Parumaen
Nasibesan: Istri dari Saudara (Ipar) lelaki dari Istri kita atau saudara Istri kita
Hela: Suami dari Puteri kita; Suami dari Puteri dari kakak/adik kita
Gawei/Eda: Hubungan Wanita dengan Istri Saudara Lelakinya
Lawei: Istri dari Saudara Lelaki
Botoubanua: Puteri Amboru; Bagi wanita: Putera Tulang

Pahompu: Cucu; Anak dari Botoubanua; Anak Pariban
Nono: Pahompu dari Anak (Lelaki)
Nini: Pahompu dari Boru
Sima-sima: Anak dari Nono/Nini
Siminik: Pahompu dari Nono/Nini

2. Tutur Holmouan / Kelompok
bersambung.....!!!!!




 

A LITTLE STORY ABOUT SIMALUNGUN ( Pdt. Juandaha Raya Purba Dasuha STh)

Bagi anda yg masih perduli atau sekedar tahu tentang deSimalungunisasi....nich sedikit informasinya:

DULU banyak orang Simalungun yg beragama islam mengaku dirinya suku melayu dan menghilangkan marganya dan berganti beradat melayu. kaum ini dijuluki " halak maya-maya" atau " dalle". kaum ini banyakl terdapat disepanjang pesisir timur sumatera, mulai dari belawan sampai ke bagan siapi-api. Sedangkan orang si malungun yg berdiam di pesisir danau toba mulai dari tiga raja ( Parapat ) sampai ke tongging beralih menjadi suku batak toba dengan mengaku dirinyaberketurunan dari samosir, memakai marga toba beradat istiadat toba. keadaan yg sama juga berlaku di cingkes sampai ke seribudolog. banyak orang simalungun yg beralih menjadi karo, bermarga karo dan beradat karo. sehingga komunitas simalungun yang masih setia dengan adat simalungun-nya menyisakan daerah penyangga di RAYA daerah yg realtif minim dipengaruhi adat tetangga. mengenai hal ini, st Gindo Sinaga pernah mengungkapkan " seharusnya orang simalungun di RAYA sudah sepatutnya berterimakasih dan tidak memandang sebelah mata dengan kami orang simalungun di Girsang Sipangan Bolon, karena sejak dibukannya jalan raya oleh belanda dan diizinkannya orang batak toba masuk keTanah jawa, siantar, bandar sampai ke sidamanik, kamilah yang pertama sekali mersakan bagaimana sulitnya menghempang tobanisasi di tanah jawa, sampai akhirnya kami harus rela menerima kenyataan, anak cucu kami fasih berbahasa toba. tetapi kami masih tetap berdarah simalungun "
bersambung.................

sumber: Pdt. Juandaha Raya Purba Dasuha STh.
 

Kehidupan Masyarakat Simalungun

Sistem mata pencaharian orang Simalungun yaitu bercocok tanam dengan jagung, karena padi adalah makanan pokok sehari-hari dan jagung adalah makanan tambahan jika hasil padi tidak mencukupi. Jual-beli diadakan dengan barter, bahasa yang dipakai adalah bahasa dialek. "Marga" memegang peranan penting dalam soal adat Simalungun. Jika dibandingkan dengan keadaan Simalungun dengan suku Batak yang lainnya sudah jauh berbeda. Di Tapanuli sudah berdiri sekolah-sekolah, rumah sakit, dan sekolah-sekolah keterampilan lainnya sehingga sistem kehidupan Tapanuli lebih maju.
 

Tebentuknya Simalungun

Pada kerajaan Nagur di atas, terdapat beberapa panglima (Raja Goraha) yaitu masing-masing bermarga :

Saragih
Sinaga
Purba

Kemudian mereka dijadikan menantu oleh Raja Nagur dan selanjutnya mendirikan kerajaan-kerajaan:

Silou (Purba Tambak)
Tanoh Djawa (Sinaga)
Raya (Saragih)

Selama abad ke-13 hingga ke-15, kerajaan-kerajaan kecil ini mendapatkan serangan dari kerajaan-kerajaan lain seperti Singhasari, Majapahit, Rajendra Chola (India) dan dari Sultan Aceh, Sultan-sultan Melayu hingga Belanda.

Selama periode ini, tersebutlah cerita "Hattu ni Sapar" yang melukiskan kengerian keadaan saat itu di mana kekacauan diikuti oleh merajalelanya penyakit kolera hingga mereka menyeberangi "Laut Tawar" (sebutan untuk Danau Toba) untuk mengungsi ke pulau yang dinamakan Samosir yang merupakan kependekan dari Sahali Misir (bahasa Simalungun, artinya sekali pergi).

Saat pengungsi ini kembali ke tanah asalnya (huta hasusuran), mereka menemukan daerah Nagur yang sepi, sehingga dinamakanlah daerah kekuasaan kerajaan Nagur itu sebagai Sima-sima ni Lungun, bahasa Simalungun untuk daerah yang sepi, dan lama kelamaan menjadi Simalungun. (M.D Purba, 1997)
 

berbagai sumber mengenai asal usul Suku Simalungun

Terdapat berbagai sumber mengenai asal usul Suku Simalungun, tetapi sebagian besar menceritakan bahwa nenek moyang Suku Simalungun berasal dari luar Indonesia.
Kedatangan ini terbagi dalam 2 gelombang :



1.Gelombang pertama (Proto Simalungun), diperkirakan datang dari Nagore (India Selatan) dan pegunungan Assam (India Timur) di sekitar abad ke-5, menyusuri Myanmar, ke Siam dan Malaka untuk selanjutnya menyeberang ke Sumatera Timur dan mendirikan kerajaan Nagur dari Raja dinasti Damanik.

2.Gelombang kedua (Deutero Simalungun), datang dari suku-suku di sekitar Simalungun yang bertetangga dengan suku asli Simalungun.


Pada gelombang Proto Simalungun di atas, Tuan Taralamsyah Saragih menceritakan bahwa rombongan yang terdiri dari keturunan dari 4 Raja-raja besar dari Siam dan India ini bergerak dari Sumatera Timur ke daerah Aceh, Langkat, daerah Bangun Purba, hingga ke Bandar Kalifah sampai Batubara.
Kemudian mereka didesak oleh suku setempat hingga bergerak ke daerah pinggiran danau Toba dan Samosir.
 

Happy Valentine's Day

February 14: General Interest
1929 : St. Valentine's Day Massacre

In Chicago, gunmen in the suspected employment of organized-crime boss
Al Capone murder seven members of the George "Bugs" Moran North Siders
gang in a garage on North Clark Street. The so-called St. Valentine's
Day Massacre stirred a media storm centered on Capone and his illegal
Prohibition-era activities and motivated federal authorities to
redouble their efforts to find evidence incriminating enough to take
him off the streets.

Alphonse Capone was born in Brooklyn in 1899, the son of Italian
immigrants from Naples. The fourth of nine children, he quit school
after the sixth grade and joined a street gang. He became acquainted
with Johnny Torrio, a crime boss who operated in Chicago and New York,
and at the age of 18 Capone was employed at a Coney Island club owned
by gangster Frankie Yale. It was while working there that his face was
slashed in a brawl, earning him the nickname "Scarface."

In 1917, his girlfriend became pregnant and they married, and the
couple moved with their son to Baltimore, where Capone attempted a
respectable life working as a bookkeeper. In 1921, however, his old
friend Johnny Torrio lured him to Chicago, where Torrio had built up
an impressive crime syndicate and was beginning to make a fortune on
the illicit commerce of alcohol, which was banned in 1919 by the 18th
Amendment to the Constitution.

Capone demonstrated considerable business acumen and was appointed
manager of a Torrio speakeasy. Later, Torrio put him charge of the
suburb of Cicero. Unlike his boss, who was always discreet, Capone
achieved notoriety as he fought for control of Cicero and was even
tried (unsuccessfully) for murder.

In 1925, Torrio was shot four times by Bugs Moran and Hymie Weiss, who
were associates of a gangster slain by Torrio's men. Torrio lived, but
four weeks later he appeared in court and was sentenced to nine months
stemming from a police raid of a brewery he owned. About a month
later, he called Capone from jail to tell him that he was retiring and
handing the business over to him.

Capone moved his headquarters to the luxurious Metropole Hotel, where
he became a visible figure in Chicago public life as his crime empire
steadily expanded. After a prosecutor was killed by some of Capone's
henchmen, the Chicago police moved aggressively against his criminal
operations, but they couldn't make any charges stick. Capone bought a
luxurious estate in Miami as a retreat from all this unwanted
attention.

Capone was in Florida in February 1929 when he gave the go-ahead for
the assassination of Bugs Moran. On February 13, a bootlegger called
Moran and offered to sell him a truckload of high quality whiskey at a
low price. Moran took the bait and the next morning pulled up to the
delivery location where he was to meet several associates and purchase
the whisky. He was running a little late, and just as he was pulling
up to the garage he saw what looked like two policemen and two
detectives get out of an unmarked car and head to the door. Thinking
he had nearly avoided being caught in a police raid, Moran drove off.
The four men, however, were Capone's assassins, and they were only
entering the building before Moran's arrival because they had mistaken
one of the seven men inside for the boss himself.

Wearing their stolen police uniforms and heavily armed, Capone's
henchmen surprised Moran's men, who agreed to line up against the
wall. Thinking they had fallen prey to a routine police raid, they
allowed themselves to be disarmed. A moment later, they were gunned
down in a hail of shotgun and submachine-gun fire. Six were killed
instantly, and the seventh survived for less than an hour.

Americans were shocked and outraged by the cold-blooded Valentine's
Day killings, and many questioned whether the sin of intemperance
outweighed the evil of Prohibition-era gangsters like Capone.
Although, as usual, he had an air-tight alibi, few doubted his role in
the massacre. The authorities, particularly affronted by the hit men's
use of police uniforms, vowed to bring him to justice.

With a mandate from Herbert Hoover, the new president, the Treasury
Department led the assault against Capone, hoping to uncover enough
evidence of Prohibition offenses and federal income tax evasion to
bring him to justice. In May 1929, Capone was convicted for carrying a
concealed weapon and sent to prison for 10 months. Meanwhile, Treasury
agents, like Eliot Ness, continued to gather evidence.

In June 1931, Capone was indicted for income tax evasion. On October
17, primarily on the basis of testimony by two former bookkeepers, he
was found guilty on several counts. One week later, he was sentenced
to 11 years in prison and $80,000 in fines and court costs. He entered
Atlanta penitentiary in 1932 and in 1934 was transferred to the new
Alcatraz Island prison in San Francisco Bay. By that time, Prohibition
had been repealed, and Capone's empire had collapsed.

At Alcatraz, the syphilis Capone had contracted in his youth entered a
late stage, and he spent his last year in prison in the hospital ward.
In 1939, he was released after only six and a half years in jail as
the result of good behavior and work credits. He was treated in a
Baltimore hospital and in 1940 retired to his Miami estate, where he
lived until his death in 1947. He was outlived by his rival Bugs
Moran, who later died of lung cancer while serving a 10-year sentence
in Kansas for bank robbery.
 

He has Gone...:(:(


January 30, 2008 • No Comments


Dia telah pergi slamanya….???
pak. Jendral(Purn.) H.M. SOEHARTO, kami selalu mengingatmu. Seberapa besar perjuanganmu buat kami rakyatmu. Banyak orang yang menggugatmu tapi kami tidak termasuk di dalamnya. Mereka hanyalah sebagian besar rakyatmu yang tidak sanggup berbuat banyak untuk negara ini. Mereka hanya “RAKUS” akan pikiran semu mereka tanpa mempertimbangkan apa yang telah mereka perbuat untuk negara ini. You maked much changes for your country, you are still the best in Indonesia…Selamat Jalan The Smiling Jendral…!!!!!
 

Siapakah Yang Disebut Sebagai Orang Simalungun

Siapakah Yang Disebut
Sebagai Orang Simalungun ?
Apakah Anda merasa sebagai orang Simalungun?

Seminar Kebudayaan Simalungun se-Indonesia (Pertama) pada tahun 1964 merumuskan bahwa :
"Marga Simalungun ialah mereka yang merasa dirinya Simalungun dan melakukan kebudayaan Simalungun sebagai kebiasaan hidupnya".
Jadi, sekalipun kita menyandang marga Simalungun sejak lahir sampai mati, itu tidak membuktikan bahwa kita adalah orang Simalungun.
Tetapi, bagaimanakah kebiasaan hidup orang Simalungun itu?
Saya merasa tidak ada seorangpun dari kita yang bisa menjawabnya dengan tepat.
Seorang mahasiswa Antropologi bisa saja menyusun kerangka etnografi sebagaimana yang dia peroleh dari bangku kuliah. Akan tetapi bila kerangka etnografi itu yang dijadikan jawaban untuk pertanyaan tersebut, maka saya atau mungkin juga Anda akan menentang. Sebab, dalam kerangka etnografi itu akan ditemukan kalimat yang kurang lebih berbunyi seperti ini:
"Masyarakat suku Simalungun tinggal di rumah-rumah besar yang disebut "jabu" dan setiap rumah dihuni oleh setidak-tidaknya empat keluarga...." dan "....sejalan dengan agama "Sipelebegu" yang mereka anut, pada malam bulan purnama masyarakat suku Simalungun biasanya kerap mengadakan upacara-upacara keagamaan berupa pemberian sesajen kepada batu-batu besar atau pohon-pohon besar, sebagai penghormatan kepada roh-roh gaib penguasa alam semesta yang mereka yakini tinggal di batu-batu dan pohon-pohon besar tersebut...."
Saya tidak tinggal di rumah seperti itu. Bahkan Ompung saya pun tidak sempat merasakan hal itu. Saya juga tidak pernah melihat apalagi melakukan upacara-upacara penyembahan batu-batu besar atau pohon-pohon besar seperti itu. Saya yakin Anda juga tidak.
Nah, apakah si-mahasiswa yang menyusun kerangka etnografi tersebut berhak mengatakan saya bukan orang Simalungun? Saya rasa jawaban kita sama. Tidak! Akan tetapi kalau kita mengatakan diri kita orang Simalungun, sekalipun kita tidak melakukan kebudayaan Simalungun sebagai kebiasaan hidup kita, itu berarti kita meremehkan orang-orang tua suku Simalungun yang ikut serta dalam Seminar Kebudayaan Simalungun tahun 1964 itu. Itu adalah dosa, tidak menghormati orang tua.
Lalu bagaimana?
Mungkin Anda akan mengatakan: "Memangnya apa untungnya jadi orang Simalungun?"
Bila Anda mengatakan seperti itu, sementara Anda tahu bahwa sebenarnya Anda sendiri atau salah satu orang tua atau kakek/nenek Anda berasal dari daerah Simalungun, saya rasa Anda kurang benar juga. Karena dengan begitu Anda telah memutuskan secara sepihak hubungan Anda dengan sepupu-sepupu dan keponakan-keponakan Anda yang tinggal di daerah Simalungun, sementara mereka masih menganggap Anda sebagai bagian dari diri mereka dan bahkan mungkin beberapa diantara mereka seringkali memimpikan Anda pulang untuk membantu mereka keluar dari keterbelakangan mereka.
Bukankah itu suatu penghianatan?
Penghianatan Anda kepada mereka?



dikutip dari PARLINDUNGAN SINAGA
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. SIMALUNGUN-KU..? - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger