Asal Usul Kepercayaan Orang Simaalungun

Patung Sang Budha menunggang Gajah koleksi Museum Simalungun, yang menunjukkan pengaruh ajaran Budha pada Masyarakat Simalungun.
Sebelum masuknya Misionaris Agama Kristen dari RMG pada tahun 1903, penduduk Simalungun bagian timur pada umumnya sudah banyak menganut agama Islam sedangkan Simalungun Barat menganut animisme. Ajaran Hindu dan Budha juga pernah mempengaruhi kehidupan di Simalungun, hal ini terbukti dengan peninggalan berbagai patung dan arca yang ditemukan di beberapa tempat di Simalungun yang menggambarkan makna Trimurti (Hindu) dan Sang Budha yang menunggangi Gajah (Budha).

Bila diselidiki lebih dalam suku Simalungun memiliki berbagai kepercayaan yang berhubungan dengan pemakaian mantera-mantera dari "Datu" (dukun) disertai persembahan kepada roh-roh nenek moyang yang selalu didahului panggilan kepada Tiga Dewa, yaitu Dewa di atas (dilambangkan dengan warna Putih), Dewa di tengah (dilambangkan dengan warna Merah), dan Dewa di bawah (dilambangkan dengan warna Hitam). 3 warna yang mewakili Dewa-Dewa tersebut (Putih, Merah dan Hitam) mendominasi berbagai ornamen suku Simalungun dari pakaian sampai hiasan rumahnya.

Sistem pemerintahan di Simalungun dipimpin oleh seorang Raja, sebelum pemberitaan Injil masuk Tuan Rajalah yang sangat berpengaruh. Orang Simalungun menganggap bahwa anak Raja itulah Tuhan dan Raja itu sendiri adalah Allah yang kelihatan.
 

Kehidupan Masyarakat Simalungun

Sistem mata pencaharian orang Simalungun yaitu bercocok tanam dengan jagung, karena padi adalah makanan pokok sehari-hari dan jagung adalah makanan tambahan jika hasil padi tidak mencukupi. Jual-beli diadakan dengan barter, bahasa yang dipakai adalah bahasa dialek. "Marga" memegang peranan penting dalam soal adat Simalungun. Jika dibandingkan dengan keadaan Simalungun dengan suku Batak yang lainnya sudah jauh berbeda. Di Tapanuli sudah berdiri sekolah-sekolah, rumah sakit, dan sekolah-sekolah keterampilan lainnya sehingga sistem kehidupan Tapanuli lebih maju.
 

Tebentuknya Simalungun

Pada kerajaan Nagur di atas, terdapat beberapa panglima (Raja Goraha) yaitu masing-masing bermarga :

Saragih
Sinaga
Purba

Kemudian mereka dijadikan menantu oleh Raja Nagur dan selanjutnya mendirikan kerajaan-kerajaan:

Silou (Purba Tambak)
Tanoh Djawa (Sinaga)
Raya (Saragih)

Selama abad ke-13 hingga ke-15, kerajaan-kerajaan kecil ini mendapatkan serangan dari kerajaan-kerajaan lain seperti Singhasari, Majapahit, Rajendra Chola (India) dan dari Sultan Aceh, Sultan-sultan Melayu hingga Belanda.

Selama periode ini, tersebutlah cerita "Hattu ni Sapar" yang melukiskan kengerian keadaan saat itu di mana kekacauan diikuti oleh merajalelanya penyakit kolera hingga mereka menyeberangi "Laut Tawar" (sebutan untuk Danau Toba) untuk mengungsi ke pulau yang dinamakan Samosir yang merupakan kependekan dari Sahali Misir (bahasa Simalungun, artinya sekali pergi).

Saat pengungsi ini kembali ke tanah asalnya (huta hasusuran), mereka menemukan daerah Nagur yang sepi, sehingga dinamakanlah daerah kekuasaan kerajaan Nagur itu sebagai Sima-sima ni Lungun, bahasa Simalungun untuk daerah yang sepi, dan lama kelamaan menjadi Simalungun. (M.D Purba, 1997)
 

berbagai sumber mengenai asal usul Suku Simalungun

Terdapat berbagai sumber mengenai asal usul Suku Simalungun, tetapi sebagian besar menceritakan bahwa nenek moyang Suku Simalungun berasal dari luar Indonesia.
Kedatangan ini terbagi dalam 2 gelombang :



1.Gelombang pertama (Proto Simalungun), diperkirakan datang dari Nagore (India Selatan) dan pegunungan Assam (India Timur) di sekitar abad ke-5, menyusuri Myanmar, ke Siam dan Malaka untuk selanjutnya menyeberang ke Sumatera Timur dan mendirikan kerajaan Nagur dari Raja dinasti Damanik.

2.Gelombang kedua (Deutero Simalungun), datang dari suku-suku di sekitar Simalungun yang bertetangga dengan suku asli Simalungun.


Pada gelombang Proto Simalungun di atas, Tuan Taralamsyah Saragih menceritakan bahwa rombongan yang terdiri dari keturunan dari 4 Raja-raja besar dari Siam dan India ini bergerak dari Sumatera Timur ke daerah Aceh, Langkat, daerah Bangun Purba, hingga ke Bandar Kalifah sampai Batubara.
Kemudian mereka didesak oleh suku setempat hingga bergerak ke daerah pinggiran danau Toba dan Samosir.
 

SATU JAM TANPA DOSA

SATU JAM TANPA DOSA

Seorang gadis kecil bertanya kepada
ayahnya, "Ayah, bisakah seseorang
melewati seumur hidupnya tanpa berbuat
dosa?"

Ayahnya menjawab sambil tersenyum : tak
mungkin, nak.

"Bisakah seseorang hidup setahun tanpa
berbuat dosa?" tanyanya
lagi.

Ayahnya berkata: tak mungkin, nak.

"Bisakah seseorang hidup sebulan tanpa
berbuat dosa?"

Lagi-lagi ayahnya berkata : tak mungkin, nak.

"Bisakah seseorang hidup sehari saja tanpa
berbuat dosa?" gadis
kecil itu bertanya lagi.

Ayahnya mengernyitkan dahi dan berpikir keras
untuk menjawab:
mmmm..... mungkin bisa, nak.

"Lalu.... bisakah seseorang hidup satu jam
tanpa dosa? tanpa berbuat
jahat untuk beberapa saat, hanya waktu demi
waktu saja, yah? Bisakah?"


Ayahnya tertawa dan berkata : Nah, kalau itu
pasti bisa, nak.

Gadis kecil itu tersenyum lega dan berkata :
Kalau begitu ayah, aku
mau memperhatikan hidupku jam demi jam,
waktu demi waktu, momen demi
momen, supaya aku bisa belajar tidak berbuat
dosa. Kurasa hidup jam
demi jam lebih mudah dijalani, ya?
 

MENIKAH DENGAN JANDA

Saya telpon seorang sahabat nan jauh di sana, di luar wilayah Jakarta. Saya tanya, "Mbak, bagaimana kalau aku kawin dengan seorang janda?"

Agak lama terdiam, kemudian sahabat itu bilang, "Yaaaa, ndak papa, Gus. Cuman asalahnya, kamu siap ndak? Soalnya, mungkin ini yang pertama terjadi di alumni Wikusama."

Saya pun spontan tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Begitupun dengan sang mBak yang sudah saya anggap seperti saudara sendiri itu. Tentu saja obrolan itu hanyalah sebuah kelakar belaka. Biasa, seperti bila kita bertemu atau saling berkomunikasi. Penuh dengan canda-tawa.

*
Dari obrolan singkat di atas, menunjukkan bahwa nasib wanita masih begitu "mengenaskan". Wanita masih dianggap rendah. Image masyarakat juga tidak begitu banyak berubah; tidak memihaknya. Uniknya, yang bicara seperti itu dari kalangan wanita --dalam hal ini sahabat saya.

Ketidakadilan pandangan terhadap perempuan dalam konteks kehidupan sosial di masyarakat, bisa kita uji kemudian dengan catatan-catatan berikut ini:

Pertama, kenapa bila jejaka mengawini janda, menjadi berita heboh, sementara bila duda mengawini perawan "ting-ting" itu menjadi hal yang biasa? Dan, itu justru menjadi "nilai tambah" bagi sang pria. Sang pria akan dikatakan sebagai seseorang yang "hebat", "tokcer"!

Kedua, bila di suatu lingkungan masyarakat, ada seorang lelaki yang suka "jajan" (main ke tempat-tempat lokalisasi WTS) tidak diheboh atau digunjingkan, sementara bila ada mantan WTS (wanita tuna susila) yang ingin tobat dan kembali ke lingkungan masyarakat secara baik-baik masih tetap saja diasingkan? Digunjingkan, dihina, dipandang rendah dan diisolir dari pergaulan?

Ketiga, kenapa bila jejaka pria kawin dengan perempuan yang lebih tua menjadi sorotan orang, sementara bila ada pria tua, umur 60-an kawin dengan anak ingusan menjadi hal yang wajar?

Gambaran-gambaran di atas menunjukkan, bagaimana masih menyedihkannya nasib dan status sosial kaum perempuan di negeri kita --atau bahkan di lingkaran belahan dunia yang lain. Padahal, dalam Islam banyak sekali mencontohkan bukti konkret betapa Nabi SAW sangat menghargai dan mengangkat derajat kaum perempuan.

Misalnya, ketika Nabi SAW berusia 25 tahun, beliau menikah dengan Khadijah yang waktu itu berusia 40 tahun. Dalam riwayat-riwayat yang lain, Nabi SAW juga mengawini janda-janda yang ditinggal mati syahid suaminya, yang tak mampu, miskin, melarat dsb, hingga kemudian muncul stigma yang buruk bahwa Nabi suka kawin.

Nabi SAW juga merubah posisi wanita yang begitu direndahkan pada era Jahiliyah (sebelum Islam), dimana kelahiran bayi wanita tidak diharapkan oleh suku Quraisy dan bahkan kemudian dibunuh. Wanita tak lebih hanyalah barang hadiah, barang yang bisa diperjual-belikan. Dengan kedatangan Nabi SAW, lambat-laun tradisi buruk kaum Jahiliyah itu bisa dirubah.

Kalau Nabi SAW saja tidak ada masalah (mengawini janda), tentu menjadi pertanyaan kritis; kenapa nilai-nilai di masyarakat justru sebaliknya; tidak mendukungnya? Uniknya, pertama, kaum perempuan sendiri justru malah menikmati "kecaman" atas sesama "gender"-nya sendiri.

Kedua, tidak pernah saya dengar kasus semacam ini diperjuangkan oleh LSM-LSM yang selama ini mengaku berlatar belakang memperjuangkan kesetaraan gender. Yang lebih diurus adalah yang menyangkut nasib perempuan dalam relasi dengan kekuasaan. Sementara, nasib perempuan dalam status sosial masyarakat, hampir dilupakan.

Jadi, kawin dengan janda?
(Sebenarnya) siapa takut!!! :)
 

CINTA RAFLI LAKI-LAKI BIASA

CINTA RAFLI LAKI-LAKI BIASA

MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar,
keheranan yang terjadi bukan semata miliknya,
melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama,

kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka
ternyata sama herannya.

"Kenapa?" tanya mereka di hari Nania mengantarkan
surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di
kantin
menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu.
Suasana sore di kampus sepi.
Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu
matanya
berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya
sibuk merangkai kata-kata yang barangkali
beterbangan
di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka.
Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari
sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan?
menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak
jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia
menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di
kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara
mendadak gagap.
Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania
menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya.
Arisan
keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena
semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga,
sebab
kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta
buntut mereka.

"Kamu pasti bercanda!"
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di
wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak
nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama
membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika
mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan
keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan
gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
"Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak, apa
lucunya jika Rafli memang melamarnya.

"Tidak ada yang lucu," suara Papa tegas, "Papa hanya
tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang
paling cantik!"

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa
barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak
sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang
mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata
penuh
seleidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang
duduk layaknya pesakitan.

"Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?" Mama
mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa
dengan
nada penuh wibawa, "maksud Mama siapa
saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya
tidak harus iya, toh?"
a
Nania terkesima.
"Kenapa?"

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami.
Mulai
dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga
juara debat bahasa Inggris, juara baca
puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih
gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa.
Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki
manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia
kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub
dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata
'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

"Nania Cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan
airmata
mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak
suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli.
Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

"Tapi kenapa?"
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga
biasa,
dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan
pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka
matanya. "Tak ada yang bisa dilihat pada dia,
Nania!"

Cukup! Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya
ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan
seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana
tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan
seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan
membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak
tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak
punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli
tampak 'luar biasa'.
Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang
telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur
duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli.
Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih
sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa
sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya,
Nania masih belum mampu juga menjelaskan
kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata
mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli,
begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya
dari
sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara
dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat
perempuan itu sangat bahagia.
"Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta
Rafli pada Nania."

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata
mereka terlihat tak percaya.
"Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis
secantikmu!"
"Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga
pintar!"
"Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan
punya
kehidupan sukses!"

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes.
Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka
tak
boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu
argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan
kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung
mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
"Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu
sukses,
mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk
menghidupimu."

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua.
Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi
punya anak.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak
juga berhenti.
Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang
anak,
satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya
menggemaskan.
Rafli bekerja lebih rajin setelah
mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu
sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup
senang.

"Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania memintanya
untuk tidak terlalu memforsir diri.
"Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan
dengan gaji Abang."

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu.
Tapi
dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa
besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.
"Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga.
Ya?"

Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan
lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik
menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari
keluarga biasa, dengan pendidikan biasa,
berpenampilan
biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang
amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.
Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak
penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di
kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah,
rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan
Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup
perempuan
itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli
melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang
di
kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik
saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!
Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang
pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek
tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan
bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum
bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania
mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu
itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau
membuat Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar.
Sudah
lewat dua minggu dari waktunya.
"Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua,
Nania. Harus segera dikeluarkan!"

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania
memasukkan
sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan
menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan
itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika
semuanya
normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera
melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di
rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu
meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan
menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara
kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang
datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan
jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan
tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan
melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu
tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

"Baru pembukaan satu."
"Belum ada perubahan, Bu."
"Sudah bertambah sedikit," kata seorang suster empat
jam kemudian menyemaikan harapan.

"Sekarang pembukaan satu lebih sedikit."
Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster
terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang
tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua.
Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah,
mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu
kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah.
Perkiraan mereka meleset.

"Masih pembukaan dua, Pak!"
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur
karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi
ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin
payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa
ditelannya.

"Bang?"
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri
memperjuangkan dua kehidupan.

"Dokter?"
"Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali
pusar."

Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi
kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?
Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir
kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak
melepaskan
genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi.
Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba
putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia
tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter
itu.
Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam
perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun.
Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan
itu sempat menangkap teriakan-teriakan di
sekitarnya,
dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum
kemudian dia tak sadarkan
diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa
menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan
zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania
mendekat.
"Pendarahan hebat."
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap,
berwarna merah.
Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan
entah bagaimana pecah!

Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi
kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu
lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak,
sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda.
Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas
yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya
dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat
seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli
bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia
harus
membagi perhatian bagi Nania dan juga
anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru,
si
kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat
kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai
empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut
menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke
rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak
banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak
keluarga
Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah
meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat
anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan
tempat
Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh.
Toh,
dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu
diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam.
Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat
telinga Nania yang terbaring di ruang ICU.
Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan
menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan
penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan
bercanda mesra.

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa
merasakan kehadirannya.
"Nania, bangun, Cinta?"
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil
mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang
cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga
mulai
pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih
berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji
dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya
mesra.
Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan
Nania
ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan.
Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil
tak bosan-bosannya berbisik,
"Nania, bangun, Cinta?"

Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud
dan
permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi
soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya
di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua
yang
menjadi sumber semangat bagi orang-orang di
sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania.
Anak-anak
merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan
yang lain, tidak wajahnya yang lama
tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus
akibat
sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias
perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan
kening,
serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya
yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab.
Nania
sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama
ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis,
menggenggam
tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya,
mengucapkan syukur berulang-ulang dengan
airmata yang meleleh.
Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya
beratus
kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah
merawat Nania selama sebelas tahun terakhir.
Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar
anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore
setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju
rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja
datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan
tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik
sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan
cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin
Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania
mengatakan itu tak perlu.
Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan
tak
kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya
pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling
cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata
Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga
jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu
menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran,
nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus
ikut.
Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang
sama, selalu melibatkan Nania. Begitu
bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan
pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua
yang
menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli
yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana
kemari. Masih dengan senyum
hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang
yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga,
sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya
memberi
pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh,
semua berbisik-bisik.

"Baik banget suaminya!"
"Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"
"Nania beruntung!"
"Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa
adanya."
"Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat
bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit
pun
tak pernah bermuka masam!"

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang
tiga
orang, Papa dan Mama.Bisik-bisik yang serupa
dengungan
dan sempat membuat Nania makin
frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu
kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap
berbisik-bisik, barangkali selamanya akan
selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu
kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain
basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu
ikut
tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania
menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak
dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan
yang lebih
dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak
berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi
sama
karena usia, meski karir telah direbut takdir dari
tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa
dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk
Nania.
 

Happy Valentine's Day

February 14: General Interest
1929 : St. Valentine's Day Massacre

In Chicago, gunmen in the suspected employment of organized-crime boss
Al Capone murder seven members of the George "Bugs" Moran North Siders
gang in a garage on North Clark Street. The so-called St. Valentine's
Day Massacre stirred a media storm centered on Capone and his illegal
Prohibition-era activities and motivated federal authorities to
redouble their efforts to find evidence incriminating enough to take
him off the streets.

Alphonse Capone was born in Brooklyn in 1899, the son of Italian
immigrants from Naples. The fourth of nine children, he quit school
after the sixth grade and joined a street gang. He became acquainted
with Johnny Torrio, a crime boss who operated in Chicago and New York,
and at the age of 18 Capone was employed at a Coney Island club owned
by gangster Frankie Yale. It was while working there that his face was
slashed in a brawl, earning him the nickname "Scarface."

In 1917, his girlfriend became pregnant and they married, and the
couple moved with their son to Baltimore, where Capone attempted a
respectable life working as a bookkeeper. In 1921, however, his old
friend Johnny Torrio lured him to Chicago, where Torrio had built up
an impressive crime syndicate and was beginning to make a fortune on
the illicit commerce of alcohol, which was banned in 1919 by the 18th
Amendment to the Constitution.

Capone demonstrated considerable business acumen and was appointed
manager of a Torrio speakeasy. Later, Torrio put him charge of the
suburb of Cicero. Unlike his boss, who was always discreet, Capone
achieved notoriety as he fought for control of Cicero and was even
tried (unsuccessfully) for murder.

In 1925, Torrio was shot four times by Bugs Moran and Hymie Weiss, who
were associates of a gangster slain by Torrio's men. Torrio lived, but
four weeks later he appeared in court and was sentenced to nine months
stemming from a police raid of a brewery he owned. About a month
later, he called Capone from jail to tell him that he was retiring and
handing the business over to him.

Capone moved his headquarters to the luxurious Metropole Hotel, where
he became a visible figure in Chicago public life as his crime empire
steadily expanded. After a prosecutor was killed by some of Capone's
henchmen, the Chicago police moved aggressively against his criminal
operations, but they couldn't make any charges stick. Capone bought a
luxurious estate in Miami as a retreat from all this unwanted
attention.

Capone was in Florida in February 1929 when he gave the go-ahead for
the assassination of Bugs Moran. On February 13, a bootlegger called
Moran and offered to sell him a truckload of high quality whiskey at a
low price. Moran took the bait and the next morning pulled up to the
delivery location where he was to meet several associates and purchase
the whisky. He was running a little late, and just as he was pulling
up to the garage he saw what looked like two policemen and two
detectives get out of an unmarked car and head to the door. Thinking
he had nearly avoided being caught in a police raid, Moran drove off.
The four men, however, were Capone's assassins, and they were only
entering the building before Moran's arrival because they had mistaken
one of the seven men inside for the boss himself.

Wearing their stolen police uniforms and heavily armed, Capone's
henchmen surprised Moran's men, who agreed to line up against the
wall. Thinking they had fallen prey to a routine police raid, they
allowed themselves to be disarmed. A moment later, they were gunned
down in a hail of shotgun and submachine-gun fire. Six were killed
instantly, and the seventh survived for less than an hour.

Americans were shocked and outraged by the cold-blooded Valentine's
Day killings, and many questioned whether the sin of intemperance
outweighed the evil of Prohibition-era gangsters like Capone.
Although, as usual, he had an air-tight alibi, few doubted his role in
the massacre. The authorities, particularly affronted by the hit men's
use of police uniforms, vowed to bring him to justice.

With a mandate from Herbert Hoover, the new president, the Treasury
Department led the assault against Capone, hoping to uncover enough
evidence of Prohibition offenses and federal income tax evasion to
bring him to justice. In May 1929, Capone was convicted for carrying a
concealed weapon and sent to prison for 10 months. Meanwhile, Treasury
agents, like Eliot Ness, continued to gather evidence.

In June 1931, Capone was indicted for income tax evasion. On October
17, primarily on the basis of testimony by two former bookkeepers, he
was found guilty on several counts. One week later, he was sentenced
to 11 years in prison and $80,000 in fines and court costs. He entered
Atlanta penitentiary in 1932 and in 1934 was transferred to the new
Alcatraz Island prison in San Francisco Bay. By that time, Prohibition
had been repealed, and Capone's empire had collapsed.

At Alcatraz, the syphilis Capone had contracted in his youth entered a
late stage, and he spent his last year in prison in the hospital ward.
In 1939, he was released after only six and a half years in jail as
the result of good behavior and work credits. He was treated in a
Baltimore hospital and in 1940 retired to his Miami estate, where he
lived until his death in 1947. He was outlived by his rival Bugs
Moran, who later died of lung cancer while serving a 10-year sentence
in Kansas for bank robbery.
 

Love Yourself

If you can't recognize how loveable you are, it will be difficult for you to respect anyone who loves you. Confidence, which only truly occurs when we love and accept ourselves, has an uncanny effect on how attractive we are, how satisfied we can be, and how fully we can love others. It can also ensure that we expect and receive the treatment we deserve.
 

Rumah Bolon Pem. Purba

Peninggalan sejarah sejarah berupa rumah tempat tinggal raja Simalungun masih ada sampai sekarang terletak di kecamatan Purba. Walaupun sudah direnofasi beberapa kali, tapi tidak mengurangi nilai historisnya.





























 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. SIMALUNGUN-KU..? - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger