Jumat, Oktober 09, 2009

Presiden SBY Batal Buka Pesta Danau Toba

. Jumat, Oktober 09, 2009
0 comments

MEDAN - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang semula dijadwalkan membuka Pesta Danau Toba (PDT) 2009 di Parapat, Rabu (7/10/2009), dipastikan batal hadir.

Hal ini disampaikan Ketua Umum Panitia PDT Sujono Manurung, Selasa (6/10/2009). "Sampai saat ini kami belum menerima konfirmasi kehadiran Presiden. Kemungkinan memang tidak bisa datang. Karena semua jadwalnya berubah akibat

musibah gempa di Sumbar," papar Sujono ketika dihubungi via ponsel.

Menurut Sujono, Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin akan menggantikan SBY untuk membuka PDT 2009. Selain itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut Nurlisa Ginting juga akan hadir dalam pembukaan ajang pariwisata tahunan tersebut.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pemasaran Depbudpar Sapta Nirwandar kemungkinan besar juga tidak akan hadir dalam pembukaan PDT 2009. "Beliau masih di Padang, karena ada keluarganya di sana. Tapi perwakilannya akan hadir dalam pembukaan besok," tambah Sujono.

PDT 2009 akan digelar selama lima hari hingga Minggu, mendatang. Beragam kegiatan lomba, pertandingan olahraga, penampilan seni dan budaya, serta pameran industri kecil dan menengah akan ikut meramaikan ajang tersebut.

from: OKEZONE.COM
Selengkapnya...

Klik disini untuk melanjutkan »»

Rabu, Maret 18, 2009

Ramayana Terbakar Kerugian Rp20 M

. Rabu, Maret 18, 2009
4 comments

by: Ernisa Rosalia Purba

apa..??? kebakaran...??? ya gak mungkinlah.. kemaren baru beli sendal tahu dari sana....percaya gak percaya waktu aku dengar beritu itu.abis uda gak pernah dengar radio, baca koran apalagi sama yang namanya nonton TV. Mmmmm, baik lupakan saja.. itu bukan urusanku, apalagi urusan anda.toh sama saja, aku dengan tidak sengajanya mendengar dari beberapa teman dikampus, klu kejadian itu disengaja.aa..gila... disengaja boo.. aku berhenti mengoceh tentang kejadian ramayana terbakar tersebut sampai akhirnya... aku benci sendiri pada ketidakpedulianku. sorenya , belum lagi apinya padam, aku lewat dari tempat tersebut. anehnya, aku pengen nangis di diangot, ngelihat masyarakat setempat menjadikan tempat berbahaya tersebut sebagai objek wisata, baik.. klu emang berempatii. tapi yang bikin miris, mreka dengan santainya membawa keluarga, poto2 dan....tak banyak bantuan yang saya lihat.mungkin benar kejadian itu di sengaja.. tapi berpikirkah mreka yang menonton ,yang tertawa, dia tas tangis kariawan yang udah memberi harapan pada tempat itu. jujur itu menyakitkan. aku gak bisa tak membayangkan itu. mereka bukan pegawai negeri kalau-kalau terjadi kejadian yang tidak diharapkan, masih bisa mendapat pengharapan dari pemerintah.. di sebagian pihak ini mungkin tak jadi masalah yang besar. tapi...
berfikir untuk peduli untuk sekarang ini memang cukup langka. aku, berdoa... mudah2 an ada sosuli buat smuanya....







Senin, 23 Februari 2009 - 18:33 wib


PEMATANGSIANTAR- Pusat perbelanjaan Ramayana di Jalan Sutomo Kota Pematangsiantar,terbakar,Senin (23/2/2009) sekira pukul 02.00 WIB dini hari tadi. Kerugian diperkirakan mencapai Rp20 miliar.

Sejauh ini belum diketahui pasti penyebab kebakaran di pusat perbelanjaan terbesar di Kota Pematangsiantar itu, namun menurut saksi mata,asal api diduga dari bagian atas di belakang gedung yang terbakar. Saksi mata,
Jayadi Sinaga,40,mengatakan,dia dan sejumlah rekan-rekannya yang begadang saat kejadian, awalnya melihat adanya kepulan asap dari atas gedung berlantai 4 tersebut.
"Semula kepulan asap yang kami lihat di bagian atas belakang gedung hanya kecil saja,namun lama kelamaan semakin besar sehingga kami curiga telah terjadi kebakaran.Saya selanjutnya menghubungi petugas pemadam kebakaran," papar Jayadi.
Sementara itu pihak Polresta Pematangsiantar melalui Perwira Humas AKP Muslim HD mengatakan, polisi masih menunggu hasil penyelidikan Tim Labfor Poldasu untuk memastikan penyebab kebakaran.

"Kita masih menunggu hasil penyelidikan Tim Labfor Poldasu yang akan turun ke Pematangsiantar untuk memastikan penyebab kebakaran, namun 2 Satpan Ramayana juga sudah dimintai keterangan oleh polisi," jelas Muslim.

Di pihak lain para karyawati Ramayana Pematangsiantar berharap,tempat mereka bekerja dapat segera kembali beroperasi sehingga mereka tidak kehilangan pekerjaan.

Salah seorang karyawati Ramayana Pematangsiantar, Butet Hasibuan (23),mengatakan meski sejauh ini belum dapat memastikan kapan akan mulai bekerja kembali, namun dia mengharapkan tempat mereka bekerja dapat segera kembali dibuka sehingga mereka tidak kehilangan pekerjaan.

"Kami berharap Ramayana Pematangsiantar dapat segera beroperasi kembali, karena tempat kami bekerja merupakan sumber penghidupan bagi kami dan keluarga kami," papar Butet.

Dihubungi terpisah Manager Ramayana Pematangsiantar, Iwan Mamuji mengatakan para karyawati tetap dipekerjakan dan untuk sementara dipindahkan ke cabang yang terdekat seperti Tebing Tinggi dan daerah lainnya.

"Tidak ada PHK terhadap karyawati meskipun Ramayana Pematangsiantar terbakar.Untuk sementara mereka akan dipindahkan ke cabang terdekat," ungkap Iwan.

Dia menambahkan, pihaknya diperkirakan mengalami kerugian sekitar Rp20 miliar akibat musibah itu, karena seluruh barang dagangan dan peralatan di pusat perbelanjaan itu musnah terbakar.

Di lokasi kebakaran tampak Walikota Pematangsiantar RE Siahaan dan Sekda Kota Pematangsiantar James M Lumbangaol,serta Muspida Kota Pematangsiantar di antaranya Dandim 0207 Simalungun Letkol (Kav) A Rahman Made dan Danyon 122 Tombak Sakti,Letkol (Inf) Hartono. (Ricky Fernando Hutapea/Sindo/fit)
Selengkapnya...

Klik disini untuk melanjutkan »»

Minggu, Januari 25, 2009

Download Lagu Simalungun

. Minggu, Januari 25, 2009
46 comments

Yang sangat memberi pengaruh kerinduan saya untuk tanah Simalungun, adalah lagu-lagunya. Lagu-lagu ini juga bisamemberi kepuasan saat merindukan tanah kelahiran. Moga bermanfaat untuk anda. Walaupun ini sangat belum lengkap saya sangat berterima kasih atas kunjungan anda..

Silahkan Download !!!


Jhon Eliaman Saragih

Borit Do Begeian Hatamin
Boru Purba
Cinta Jarak Jauh
Danau Toba
Doding Kado Pengantin
Eta Maranggir
Friska
Gumisni Huting
Iluh I Bandara
Lalap Marangan-angan
Lang Tarpabuni
Marbapa Dua
Mardatu
Marih Si Bahuei
Mase
Masema
Mulani Pargaulanta
Paris Ni Udan
Pintor Bilang



DAMMA Terbaru

Barita Hun Simalungun
Hoi
Idolaku
Lince
Manriah
Nini
O..Raru
Sarupa Do Jambarta
Seng Pitah Ham
Tangis Lang Tar Tangishon



Serly Saragih
Ai Botou


Marmasi Trio
Dingis Na Lang Marasar


Ladies Trio
Anak Matani Arikku

AGAVE GROUP
Polisi Toba


Trio Mora
O..Simalungun


Zenny MT
Oe Pelo Botou
Zenny MT ft Huristina S
Lungun Tumang Huahap


Yuli S
Hayu Na Melus
HolongalahanLopah


Jhon Kariando

Abingma Pahoppumon


NN
Haporas Ni Silokkung




Lagu Rohani Simalungun

5 Roti 2 Dekke
Bai Pardalanan
Bujur Do Naibata
Hamajuonni Jaman
Hu Sombah Ham Tuhan
Idilo Tuhan Naibatanta
Jaloma Jesus
Markuasa
Mattin Ni In
Monang Do Au
Naha Do Pangahapmu
Titah Palimahon
Tolong Ham MA Tuhan
Tuhan Ham Sortalikku



kita akan berusaha kalo ada yang maw request lagu...!!!

Terimakasih....

Selengkapnya...

Klik disini untuk melanjutkan »»

Rabu, Januari 14, 2009

Mengapa Penginjilan di Simalungun Tidak Terlalu Sukses

. Rabu, Januari 14, 2009
4 comments

Mengapa Penginjilan yang dilakukan oleh Para Zending dari Jerman dahulu di tanah Simalungun tidak seberhasil dengan kesuksesan yang diraih mereka di Tapanuli?
.
Penyebab utamanya karena para Zending tersebut dipengaruhi oleh tarombo Tapanuli yang selalu menaruh suku Simalungun, Karo, Pakpak, Mandailing, Angkola, dan bahkan Nias sebagai hasil diaspora dari Tapanuli yang mana membuat Para Zending selalu menyebarkan injil di dalam masyarakat Simalungun bukan memakai bahasa Simalungun namun memakai bahasa Toba.

Masyarakat Simalungun merasa kecewa dengan Para Zending yang seakan-akan tidak menghargai budaya dan bahasa Simalungun sebagai salah satu budaya yang berdiri sendiri dan mandiri bebas dari pengaruh Toba.
.
Bagaimana masyarakat Simalungun bisa mengerti injil dan khotbah yang diucapkan oleh Para Zending menggunakan bahasa Toba?walaupun sekilas sama namun tetap ada beberapa kosa kata yang berbeda dan bahkan ada kosa kata yang sama namun artinya berbeda.Selain itu secara psikologis orang Simalungun merasa dilecehkan oleh Para Zending karena tidak mau mempelajari budaya,adat dan bahasa Simalungun namun selalu menyamakan orang Simalungun layaknya orang Toba.
.
Selain itu di Simalungun bawah proses penginjilan juga ditentang oleh Raja Siantar marga Damanik yang telah menjadi muslim dan ingin agar semua rakyatnya sama seperti dirinya yang merupakan seorang Muslim. Proses Islamisasi yang lebih dekat ke adat Simalungun karena menghargai adat dan budaya Simalungun membuat ketertarikan masyarakat Simalungun bawah lebih mudah masuk Islam ketimbang ajaran Kasih yang dibawa oleh para penginjil Jerman tsb.
.
Syukurlah Simalungun mempunyai seorang Pendeta yang berkharisma dan perhatian pada budaya asli mereka sendiri yaitu Pdt. J. Wismar Saragih Sumbayak. Pada saat ia masih hidup, ia sukses memisahkan GKPS dari HKBP dan menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Simalungun, hal ini disambut dengan positif masyarakat Simalungun dengan banyaknya yang berpindah dari agama suku ke Kristen sehingga membuat GKPS benar2 berfungsi sebagai lembaga penginjilan, pembinaan iman dan sekaligus pelindung bahasa Simalungun dari serangan Tobanisasi yang melanda Simalungun.


sumber: Sevilla99
Selengkapnya...

Klik disini untuk melanjutkan »»

Fungsi Musik Gonrang Pada Masyarakat Simalungun

.
4 comments

Catatan Awal
Musik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan. Dari semua karya seni, mungkin sekali musiklah yang paling mempengaruhi tradisi budaya untuk menentukan patokan-patokan sosial dan patokan-patokan individu, mengenai apa yang disukai dan apa yang diakui. Musik dapat mencerminkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip umum yang mendasarinya, yang menghidupkan kebudayaan tersebut secara menyeluruh.

Gonrang (istilah bahasa Simalungun untuk “gendang”) salah satu alat musik dari daerah Simalungun, yang telah lama ada dan berkembang di daerah Simalungun. Musik gonrang tidaklah hanya apresiasi seni semata, tetapi juga mau memperlihatkan makna dan fungsi yang sangat mendalam bagi kehidupan masyarakat Simalungun khususnya. Makna dan fungsi gonrang terwujud sebagai suasana pengungkapan hati, sebagai sarana hiburan, sebagai sarana komunikasi. Musik gonrang juga sebagai representasi simbolis yang mencerminkan nilai-nilai, pengaturan kondisi sosial dan perilaku kultur lainnya serta sebagai peneguh ritus-ritus keagamaan dan ikatan sosial.

Maksud tulisan ini adalah untuk membahas kelima fungsi gonrang Simalungun yang disebutkan diatas.

Fungsi Musik gonrang dalam komunitas masyarakat simalungun:

1. Sebagai pengungkapan suasana hati
Dimanapun di dunia ini, tampak jelas bahwa musik mempunyai peran yang kuat dalam mengungkapkan suasana hati seseorang. Pengungkapan suasana hati itu dapat bersifat spesifik seperti halnya pada lagu yang bernuansa politis maupun lagu-lagu percintaan yang mau mengungkapkan perasaan dan kepuasan diri. Apapun jenis suasana hati yang diekspresikan dalam proses pembuatan musik, akan menggugah reaksi dari para pendengar dan reaksi itu tidak lepas dari pementasannya. Maksudnya adalah nuansa lagu yang dibawakan disesuaikan dengan suasana pesta. Sebagai contoh, untuk pesta perkawinan, pesta panen dan pesta meriah lainnya tentu sangat berbeda nuansa musiknya dengan suasana kematian atau kesedihan.

Salah satu faktor yang dianggap penting dalam menentukan reaksi suasana hati terhadap musik di kalangan masyarakat Simalungun adalah tempo musik yang dibawakan. Untuk menunjukkan suasana gembira, maka dipakai tempo sedang hingga tempo cepat. Sedangkan tempo lambat umumnya dipakai untuk yang berhubungan dengan hal-hal musibah, kekecewaan, kesedihan dan kerinduan hati. Banyaknya lagu-lagu sedih di daerah Simalungun dan digunakannya istilah inggou menggambarkan makna suasana hati dari lagu-lagu tersebut serta persepsi masyarakat Simalungun terhadap lagu-lagu tersebut. Pengungkapan perasaan mungkin paling mudah dan sederhana untuk difahami dari lirik yang dikandungnya.

Para pemain musik gonrang mempunyai peran penting dalam suasana ini. Para pemusik menjadi pemicu dalam memulai dan memfasilitasi pengungkapan perasaan yang sesuai untuk masing-masing situasi dengan cara “menghidupkan” gual (lagu yang dimainkan pada ansambel musik gonrang) yang dibawakan. Sebagai contoh, dalam tortor sombah (tortor = tarian, sombah = sembah) dimulai oleh pihak boru (orang atau klan yang menjadi pihak penerima istri kepada yang bersangkutan) dan mengarahkan kepada pihak tondong (orang atau klan yang menjadi pihak pemberi istri dari yang bersangkutan).

Sikap sembah diwujudkan dengan mengatupkan telapak tangan dengan ujung jari menghadap ke atas dan disentuhkan pada dahi, dengan sikap seperti ini pihak boru menghampiri pihak tondong. Sambil menarikan tortor sombah dihadapan pihak tondong, pihak boru memohonkan kasih sayang yang manja dari pihak tondong. Maka kerendahan hati merupakan makna dari inti tarian yang dibawakan oleh boru yang diungkapkan dalam konteks tarian dan musik yang dibawakan.

2. Sebagai sarana hiburan
Salah satu fungsi musik gonrang bagi masyarakat Simalungun adalah sebagai sarana hiburan. Karena kurangnya kesempatan untuk menikmati suasana istirahat dari kerja, maka pada saat pesta merupakan kesempatan untuk beristirahat dari aktivitas kerja. Pesta merupakan salah satu bentuk acara selingan. Ada sejumlah pesta yang dilaksanakan setiap tahun, yang termasuk di dalamnya yaitu Manumbah (penyembahan tempat keramat maupun arwah para nenek moyang).

Ada pesta yang diselenggarakan pada saat-saat khusus : pesta palaho/paroh boru (pesta pernikahan), pesta mangalo-alo tamuei (pesta penyambutan tamu atau undangan istimewa), mamongkot jabu (selamatan memasuki rumah baru) dan masih banyak kesempatan lain yang dijadikan suasana pesta. Salah satu kebiasaan dalam berpesta adalah mengundang antara kampung yang satu dengan kampung yang lain yang memiliki ikatan hubungan tondong, boru dan sanina (mereka yang berasal dari marga dan sub-marga yang sama dengan yang bersangkutan) untuk memeriahkan pesta tersebut.

Pada pelaksanaan pesta tersebut, biasanya para undangan dengan sabar mengikuti acara, khususnya pada acara adat penting dan menunggu sampai pada kesempatan mereka untuk menari. Salah satu kebiasaan pada saat menari, para undangan akan meminta gual yang menjadi kesukaan mereka (umumnya untuk pesta-pesta meriah). Kaum muda-mudi, karena belum mendapat posisi dalam masyarakat biasanya baru mendapat giliran untuk menari pada akhir-akhir acara. Untuk mereka, ini adalah kesempatan untuk bersosialisasi satu sama lain dan kesempatan untuk belajar menari pada pesta-pesta resmi.

Selain pada kegiatan adat dan tradisi musik gonrang yang disebutkan diatas, musik merupakan sarana hiburan pada kesempatan lain. Para warga, khususnya kaum pria, suka berkumpul pada malam hari sambil bernyanyi dan memainkan alat musik seperti : gitar, seruling, harmonika dan alat musik lainnya sebagai sarana hiburan.

3. sebagai sarana komunikasi
Para ahli musik telah mengakui fungsi kesenian musik adalah sebagai sarana komunikasi. Lewat nuansa musik yang dibawakan, mereka mau mengkomunikasikan seluruh perasaannya secara simbolis, baik yang menggembirakan maupun yang sedih. Nuansa kesedihan, kekecewaan dan kesepian biasanya diungkapkan dengan lirik dan bunyi lagu-lagu percintaan maupun lagu-lagu perpisahan. Kita akan lebih merasakan perasaan hati seperti ini pada sejumlah gual yang bertempo lambat. Bunyi musik juga dapat menyajikan suasana hati tertentu yang dapat membantu untuk mengungkapkan perasaan hati dan inti dari lirik yang dinyanyikan.

Selain itu, musik gonrang juga mau mengkomunikasikan identitas etnis. Sebagai salah satu dari sekian banyak kelompok etnis di Indonesia, masyarakat Simalungun yang tertarik pada tari-tarian dan musik tradisionalnya, sangat menyadari keunikan musik mereka, baik di dalam maupun di luar tradisi gonrang. Pada acara-acara silaturahmi, sebagian dari anggota masyarakat sering muncul “nasionalisme primitif kesukuan” dengan musik, tarian dan adat sebagai titik tolak semangat. Pada acara seperti ini kerap kali sangat membantu penyebaran musik dan tari-tarian Simalungun, yang mempengaruhi musik dan tari-tarian nasional Indonesia. Dengan demikian, musik Simalungun merupakan suatu acara guna mengkomunikasikan karakter dan kebanggaan etnis mereka.

4. Sebagai Representasi Simbolis
“Musik mencerminkan nilai-nilai, pengatur kondisi sosial dan perilaku kultur lainnya.”
Musik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan. Dan sebagaimana aspek-aspek kebudayaan lainnya, musik niscaya akan mencerminkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip umum yang mendasarinya, yang menghidupkan kebudayaan tersebut secara menyeluruh.

Ansambel musik gonrang mempunyai hubungan erat dengan struktur adat. Status para pemain musik dalam suatu ansambel musik gonrang didasarkan atas jenis alat musik yang dimainkannya. Si peniup sarunei (alat musik tiup yang memiliki tujuh buah lubang jari) selalu diakui sebagai pemimpin di antara mereka (secara musik maupun secara adat). Ia mempunyai peranan yang sangat besar dalam menentukan ansambel musik yang akan dimainkan. Menurut adat juga, bila pihak yang meminta gual memberikan penghargaan maka si peniup sarunei-lah yang harus menerima penghargaan tersebut. Dalam hal pendapatan di antara anggota pemain musik, ia juga yang akan mendapat imbalan yang lebih besar.

Tingkatan kedua yaitu para penabuh ansambel gonrang (gonrang si dua-dua atau gonrang bolon). Untuk gonrang si dua-dua umumnya hanya dimainkan satu atau dua orang saja, sedangkan untuk gonrang bolon umumnya dimainkan dua atau tiga orang. Mereka ini menabuh gonrang sedemikian rupa sehingga mampu memainkan gual yang dimintakan dengan mengikuti pola irama dari sarunei. Pertingkatan di antara penabuh hampir tidak ada, namun umumnya penabuh gonrang yang lebih mahir dalam memainkannya diakui sebagai yang menentukan.

Tingkatan yang ketiga yaitu para pemukul gong dan mongmongan (dua buah gong kecil yang digunakan sebagai tanda bunyi kolotomis). Meskipun musik dapat dimainkan tanpa didampingi oleh pemukul gong dan mongmongan, tetapi umumnya bagian ini juga selalu diikutkan. tugas mereka adalah membawakan kerangka dari gual tersebut, yang tujuannya untuk menambah nilai rasa dan tekanan yang menetap pada gual yang dimainkan. Sekali mereka mendapat pola yang pas dari gonrang dan sarunei, tugas mereka hanya mengulangi pola tersebut sampai gual berakhir.

Pertingkatan pada pemeran ansambel musik gonrang juga mempunyai hubungan dalam kelompok adat Simalungun. Sebagaimana pemain sarunei adalah sebagai pemimpin diantara pemain ansambel lainnya, maka kelompok tondong menduduki posisi sebagai pemimpin pada acara-acara adat (juga dalam hidup sehari-hari). Kemudian diikuti oleh kelompok boru sebagai kelompok kedua yang sangat erat hubungannya dengan tondong. Pihak tondong senantiasa memperhatikan dan memperlakukan boru-nya dengan baik dan bahkan memberikan berkat agar mereka senantiasa hidup sejahtera. Kelompok ketiga adalah kelompok sanina (keanggotaan marga dan sub marga yang berpesta). Sebagaimana pemukul gong dan mongmongan yang menambah nilai rasa pada ansambel musik gonrang, kelompok sanina ini merupakan penolong khususnya saat mempersiapkan acara pesta, pendamping bagi boru dan bagian dari boru itu sendiri.

Walaupun pengelompokan tondong, boru dan sanina dalam struktur adat mempunyai hubungan yang sangat erat dengan si peniup sarunei, penabuh gonrang dan pemukul gong dan mongmongan dalam ansambel musik gonrang, tetapi di antara kelompok ini praktisnya masih terdapat perbedaan. Pada ansambel musik gonrang, para pemainnya sangat jarang saling “bertukar posisi” atau tukar peran dalam memainkan ansambel musik gonrang.

Hanya dimungkinkan antara penabuh gonrang dengan pemukul gong dan mongmongan yang saling bertukar posisi. Pada konteks adat, posisi seseorang ditentukan oleh ikatan hubungan dengan pihak yang menyelenggarakan pesta. Dalam suatu pesta umpamanya, posisi seseorang dapat sebagai tondong namun pada saat pesta lain, dapat sebagai boru atau sanina. Jadi, seseorang dapat menempati ketiga posisi yang ada dalam kelompok ini. Dengan demikian akan ada keseimbangan, karena semua orang berkesempatan untuk memerankan salah satu dari ketiga kelompok ini dalam suatu pesta.

5. sebagai peneguh ritus-ritus keagamaan dan ikatan sosial
Salah satu kebiasaan baik bagi masyarakat Simalungun dan seluruh masyarakat Batak umumnya adalah adanya kebiasaan martutur (menelusuri silsilah satu sama lain). Hal ini dilakukan bagi mereka yang belum saling mengenal satu sama lain. Setelah saling mengetahui silsilah masing-masing, mereka akan dapat memposisikan diri satu sama lain berdasarkan aturan adat mengenai tata cara ikatan hubungan antara tondong, boru dan sanina. Ini merupakan norma yang mendukung terciptanya ikatan sosial yang kuat dalam kalangan masyarakat Simalungun.

Adat dan kelompok adat adalah unsur-unsur yang paling sentral dan kuat di kalangan masyarakat Simalungun, maupun masyarakat Batak umumnya. Kekuatan adat tersebut ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari melalui acara seperti tari-tarian adat yang dipentaskan hampir pada setiap pesta. Gual yang dibawakan pada acara tersebut pada umumnya gual yang mengingatkan pihak tondong, boru dan sanina akan tata cara keharmonisan sikap dan tindakan diantara mereka. Sikap dan kasih sayang serta tindakan mencurahkan berkat harus dipraktekkan dalam konteks sosial lingkup suasana gual yang dibawakan. Musik gonrang dijadikan sebagai sarana untuk menjaga kelangsungan nilai-nilai kultural dan keagamaan. Musik gonrang menjadi alat untuk pengikat dan peneguh ikatan sosial dan upacara-upacara kultural maupun keagamaan yang dianggap penting oleh masyarakat Simalungun.

kesimpulan
Dari seluruh uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa musik gonrang Simalungun mempunyai peran penting dalam kehidupan masyarakat Simalungun. Musik gonrang merupakan titik pangkal pengembangan budaya sebagai suatu simbol identitas yang unik dari masyarakat Simalungun. Musik gonrang sangatlah khas, bahkan di kalangan suku Batak lainnya, dan merupakan salah satu peninggalan kebanggaan milik masyarakat Simalungun.

Tradisi musik gonrang merupakan sarana yang sangat vital dalam pengekspresian tradisi kerohanian masyarakat Simalungun, juga sebagai bentuk pernyataan ikatan kekeluargaan dan kekerabatan, keturunan sedarah dan keturunan sesuku umumnya. Di samping itu, musik gonrang Simalungun, secara tidak langsung, mengajarkan kearifan hidup manusia yang dicerminkan dalam sikap dan pergaulan dengan sesama (nilai sosial), maupun untuk mencapai nilai-nilai tertinggi, yakni nilai spiritual (nilai rohani). Proses pencapaian nilai tersebut tentu saja didasari oleh sikap mendengarkan, penuh penghayatan sehingga apa yang dihadirkan dari musik tradisional ini dapat menyentuh perasaan hati yang paling dalam.

upaya mempertahankan dan memelihara musik gonrang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita sadari atau tidak, sangat mempengaruhi kebudayaan, bahkan hampir di semua aspek kebudayaan. Sebagai contoh, hadirnya alat musik keyboard serta alat musik elektronik lainnya sangat berpengaruh besar bagi musik gonrang. Posisi gonrang “digeser” oleh keyboard dan alat musik lainnya. Untuk acara-acara pesta misalnya, sekarang ini sangatlah jarang kita temukan yang memakai musik gonrang, terutama di daerah kota. Selain itu, pemain musik gonrang sudah semakin langka ditemukan, karena kaum muda sudah tidak tertarik lagi dengan alunan musik ini, apalagi untuk mempelajari cara untuk memainkannya. Hal ini sekaligus menjadi keprihatinan kita bersama.

Manusia tidak bisa tercabut dari akar budaya yang melatarbelakanginya. Tadi, kita telah melihat nilai-nilai yang terkandung dalam musik gonrang Simalungun yang merupakan ungkapan identitas masyarakat Simalungun, yang merupakan bagian dari Khazanah budaya nasional Indonesia. Tantangan besar bagi warga Simalungun, apakah kekayaan budaya ini masih dapat dipertahankan ke masa depan? menjadi tugas kita bersama, memahami dan menghayati nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, serta menggali lagi nilai-nilai lain yang terkandung di dalamnya, serta mewariskannya kepada generasi berikut. Dulang si dua rupa,Goran ni bulung-bulung, Ulang ma hita lupa, Adat ni Simalungun. Semoga!!!

Penulis : Fr Bonifasius Harahap Saragih OGM Cap ,seorang Kapusin, tinggal di P. Siantar

Sumber : Harian SIB
Selengkapnya...

Klik disini untuk melanjutkan »»

Selasa, Januari 13, 2009

Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Simpang TKA Bungo

. Selasa, Januari 13, 2009
1 comments

GKPS Simpang TKA Bungo, Komunitas Kecil yang Teraniaya

Sebanyak 33 keluarga komunitas Nasrani, warga Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Simpang TKA kilometer 44, Desa Rantau Ikil, Kecamatan Jujuhan, Kabupaten Muarobungo, kini teraniaya oleh sekelompok warga setempat yang tak bertanggung jawab.
Bahkan pembakaran 30 unit rumah milik warga pendatang asal Simalungun dan Karo Sumatera Utara 28 Juli 2007 lalu, menyisakan luka mendalam umat Nasrani di sana. Bahkan warga pendatang itu diwajibkan membayar denda
Rp 90 juta sebagai perdamaian secara adat.

Padahal yang menjadi korban pembakaran itu adalah saudara kita yang mengadu nasib sebagai petani kebun di desa tersebut sejak 10 tahun silam. Sungguh tidak adil. Sepertinya saudara kita disana teraniaya.

Pendeta GKPS Resort Jambi, Pdt Jhon Rickky R Purba, STh kepada penulis menuturkan, dari 30 unit rumah warga asal Sumut yang dibakar di Simpang TKA, lima diantaranya milik warga GKPS Simpang TKA, Resort GKPS Jambi.

Masing-masing Sy S Silalahi/br Simanjuntak, Maston Naibaho/br Saragih, Bernath Barus/br Jawak, Johan Barus/br Sinaga dan Bendehara GKPS Simpang TKA, Sy.J Damanik, Bong Manalu.

Seluruh harta benda milik warga GKPS itu, habis dijarah dan dibakar orang tak bertanggung jawab itu. Bahkan uang gereja GKPS Simpang TKA juga ikut dijarah habis oleh warga yang membakar rumah pendatang itu.

Dibongkar Paksa


Jiwa yang teraniaya yang dialami warga GKPS Simpang TKA, tidak hanya pada tempat tinggal mereka. Sebuah rumah peribadatan (gereja) milik GKPS Simp TKA juga ikut terkena imbas yang berujung pada pembongkaran paksa oleh perangkat desa dan pejabat kecamatan.

Pendeta GKPS Muarobungo, Pdt E D Sinaga, STh menceritakan, sudah tiga kali gereja semi permanen GKPS Simp TKA dibakar sekelompok orang tidak bertanggung jawab (warga desa setempat). Tahun 2003 lalu merupakan pembakaran yang cukup parah.

Bangunan gereja GKPS Simp TKA sudah dipindahkan kelokasi yang jauh dari pemukiman warga setempat non Nasrani. Sebanyak 33 KK warga GKPS Simpang TKA sudah mengumpulkan tanda tangan sebagai syarat membangun gereja di dekat pemukiman mereka.

Sebagai kepedulian St R.K Purba, salah satu tokoh Simalungun GKPS di Jambi sangat terharu mendengar kondisi gereja GKPS Simp TKA tersebut. Dirinya juga memberikan motivasi kepada warga GKPS Simp TKA untuk tetap berusaha mendekatkan diri dengan warga sekitar.

“Saya harapkan terus dilakukan pendekatan persuasif. Sehingga izin bangunan tersebut dapat keluar. Saya bersedia menyumbangkan seluruh atap seng untuk gereja tersebut. Semoga warga GKPS Simp TKA sabar dan teguh dalam iman. Saya juga menyumbangkan seng untuk bangunan gereja tersebut,” demikian kata St RK Purba saat Synode GKPS Resort Jambi, awal Maret lalu.

Kronologis


Pembongkaran paksa geraja GKPS Simpang TKA yang berlokasi di Dusun Baru, Desa Rantau Ikil, Kecamatan Jujuhan, Kabupaten Bungo, kembali terjadi, Senin, 30 Juli 2007. Pembongkaran rumah Tuhan itu disaksikan rombongan Pdt GKPS Resort Jambi. Hanya sebuah Podium yang bersisa dari pembongkaran paksa itu.

Kronologis pembongkaran gereja itu, awalnya dari surat tertanggal 20 Juli 2007 Kades Rantau Ikil Nomor 451.1/390/Pem, hal pemberitahuan. Isi surat dari kesepakatan pemerintah desa, pemuda masyarakat dan segenap lapisan masyarakar Rantai Ikil menghimbau dan mengingatkan kelompok masyarakat Kristiani untuk tidak melanjutkan pembangunan gereja.


Dalam surat itu dituliskan, karena pembangunan gereja di Dusun Baru Petanun maupun di semua tempat dalam wilayah Desa Rantau Ikil, dapat menciptakan dan memperluas konflik secara horizontal yang dapat merusak hubungan baik antar warga dan akhirnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Apabila saudara beserta kelompok masyarakat Kristiani di maksud tidak mengindahkan pemberitahuan ini, maka kami atas nama pemerintah desa tidak bertanggung jawab bila terjadi hal-hal yang tidak di inginkan tersebut kemudian hari,” demikian isi terakhir surat yang ditanda tangani Kades Rantau Ikil dan Ketua BPD Rantau Ikil.

Pada tanggal 23 Juli 2007, datang Kepala Desa Rantau Ikil-Yusri, Camat Jujuhan-Afri Asianto S Sos, Ketua Pemuda dan tokoh masyarakat desa setempat lainnya menutup gereja dan memberikan surat pelarangan beribadah dan penutupan gereja.

Kemudian tanggal 24 Juli 2004, datang rombongan BIN, Kasat Intel Kam, Kapolsek dan lain-lain meninjau lokasi rumah ibadah sambil minta keterangan kepada warga GKPS Simp TKA dan Pdt E Sinaga STh.

Selanjutnya, 25 Juli 2007, panggilan rapat oleh Muspika Kec Jujuhan. Pada tanggal 26 Juli 2007 dilakukan rapat dan menghasilkan berita acara pembongkaran gereja.

Dalam hasil kesepakatan itu, ada empat poin yakni bahwasannya pelaksanaan ibadah warga Jemaat GKPS Simp TKA dilaksanakan dari rumah ke rumah, bahwasannya warga GKPS pada tanggal 30 Juli 2007 pukul 10.00 wib siap membongkar gereja.

Poin ketiga kesepakatan itu bahwasannya tidak akan dilakukan lagi pembangunan rumah ibadah dalam bentuk apa pun untuk kedepannya dalam wilayah Desa Rantau Ikil, Kecamatan Jujuhan.

Poin keempat, apabila salah satu pihak melanggar kesepakatan ini maka pihak Muspika Kecamatan Jujuhan, Kepala Desa dan Perangkat Desa Rantau Ikil tidak bertanggung jawab terhadap apapun yang terjadi.

Kesepakatan itu ditanda tangani oleh tiga perwakilan Warga GKPS Simp TKA, S Silalahi, J Damanik dan J Saragih. Sedangkan perwakilan desa Rantau Ikil, Kades Rt Ikil Yusri, H Anasri Tokoh Masyarakat Des Rantau Ikil, Rusni-Ketua Pemuda Desa Rt Ikil.

Surat kesepakatan itu diketahui oleh, Camat Jujuhan, Danramil 416-02 Tanah Tumbuh-Kapten Inf Busril, Kapolsek Jujuhan-AKP A Farizal, Kantor Urusan Agama Kec Jujuhan Drs Hafiz dan Ketua Lembaga Adat Kecamatan Jujuhan M Amin HIB.

Bantuan Korban

Kejadian yang menimpa lima keluarga warga GKPS Simp TKA, Pengurus GKPS Resort Jambi tidak tinggal diam. Ratusan warga GKPS Jemaat Jambi dan simpatisan turt prihatin dan memberikan sumbangan.

Rombongan Pdt JRR Purba STh, Sabtu (4/8) menuju GKPS Simpang TKA membawa bantuan berupa 10 karung pakai bekas layak pakai, 10 karung beras, 40 dus mie instan, obat nyakmuk, minyak goreng, kecap, pasta gigi dan peralatan dapur lainnya.

Selain bantuan beruma sandang pangan, Pengurus GKPS Resort Jambi juga menyumbangkan uang tunai Rp 6,6 juta. Pengurus GKPS Resort Jambi juga membuka Posko Peduli GKPS Simpang TKA dengan alamat GKPS Jambi, JL.Lapangan Tembak (kapten Sujono) Kotabaru Jambi No.12. Kota Jambi. (Asenk Lee Saragih).

Selengkapnya...

Klik disini untuk melanjutkan »»

Rabu, Januari 07, 2009

Segera

. Rabu, Januari 07, 2009
1 comments

SEGERA TERBIT....!!!!!!!!!!!

ALBUM DAMMA


" N I N I "

TERBARU.......!!!!!!



Selengkapnya...

Klik disini untuk melanjutkan »»

Kamis, November 20, 2008

Festival Lagu Batak Se-Kalimantan Barat

. Kamis, November 20, 2008
6 comments

DEWAN Pimpinan Daerah (DPD) Kerukunan Masyarakat Batak (Kerabat) menyelenggaralan Festival Vokal Group Lagu–lagu Batak yang pesertanya terbuka untuk umum. Final acara yang akan digelar di Pontianak Convention Centre (PCC) pada 19 Oktober 2008 pukul 19.00. Acara ini dimeriahkan oleh penampilan khusus Joy Destiny Tiurma Tobing atau populer dengan panggilan Joy Tobing. Acara ini diikuti tidak hanya diikuti oleh etnis batak toba, batak simalungun, batak karo, batak nias, batak pakpak, dan batak mandailing saja, tapi juga diikuti oleh etnis lain seperti dayak ,cina dan melayu. Nah, special buat tulang ku “tomy saragih” ku berikan sebuah foto sepasang kekasih dari tanah Simalungun. Yang telah sukses menutup Festival Vokal Group Lagu–lagu Batak seKalBAr ini dengan sebuah tot-tor Simalungun hasil asuhan boru Damanik na jago on… panogolan mu satu nee……hehehe.



Selengkapnya...

Klik disini untuk melanjutkan »»

Minggu, Oktober 05, 2008

Pantun Simalungun

. Minggu, Oktober 05, 2008
7 comments

Umpasa Simalungun
1. Urat ni gatap tano, rongging marsiranggoman
Age pe padao-dao, Tonduyta tontong marsigomgoman

2. Ia bagod i nakkih, ilambung ni sampuran
Ia jaman on jaman canggih, ulang lupa hubani Tuhan

3. Halambir ni sindamak, ikuhur dop ibola
Sinaha pe nini halak, ulang lupa bani horja

4. Juma ni Tigarunggu, tubuhan lata-lata
Rajin ma hita mar minggu, ase tong-tong ihasomani Tuhanta

5. Sinjata ni Indonesia, mariam dohot mortir
Andohar Indonesia jaya, Rakyat ni pe homa makmur

6. I lambung passa-passa, Tubu bonani tobu
Age aha pe namasa, Hita ulang mahua

7. Ratting ni hayu bor-bor, ibaen hu pingging pasu
Anggo rajin martonggo, Jumpahan pasu-pasu

8. Boras ibagas supak, ibaen huparasanding
Horas nasiam na mulak, horas homa hanami na tading

9. Boras ni purba tua, iboan hu tiga balata
Horas ma hita sayur matua, itumpak-tumpak Naibatanta

10.Andor hadukka ma togu-togu ni lombu, togu-togu ni horbo, itogu hu Ajibata
Horas ma hita sayur matua, patogu-togu pahompu, das mar nini mar nono, ipasu-
pasu Naibatanta

11. Urat ni nangka, urat ni hotang
Hujape hita manlangkah, sai dapot-dapotan

12. Tubuh ma sanggar dohot tobu, dohor hupagar kawat
Tubuh ma anak pakon boru, jadi jolma na marpangkat

13. Urat ni riba dagei iboan hu Sukadame
Ulang bei sai marbadai, sai roh ma uhur dame

14. Dalan hua Ajibata, adong do tubuh Pisang
Anggo domma marrumah tangga, ulang ma adong hata mandok sirang

15. Tubu sanggar dohot tobu i dolok-dolok
Tubu ma anak pakon boru na mok-mok.
16. Arirang ni palia, madek-dek hu bong-bongan
Age adong parsalisihan, ulang mar sidom-doman

17. Tubu ma sanggar dohot tobu, parasaran ni piduk
Tubu ma anak pintar dohot boru na bisuk

18. Tubuh ma silanjuyang, itagil lang ra melus
Aha pe lang na hurang, anggo marhasoman Jesus

19. Sada sikortas kajang, padua kortas hulipat
Sadokah ham marlajang, sada ham do hansa na hudingat.

20. Habang ma anduhur, sogop hu goring-goring
Anggo pusuk uhur, eta ham mandoding-doding

21. Hondor ma langge mu, i dolok si Marsolpah
Holong ni atei mu, ingaton ku do ai madokah

22. Sihala sibarunje, ruak sihala bolon
Santabi ma bani umbei, dear nalang tarhorom

23. Itampul bulu lihom, bulung ni irantingkon
Hatamu do masihol, hape uhur mu manadingkon

24. Sedo lak-lak hasundur, haronduk ni buluk ku
Sedo halak hu sukkun, harosuh ni uhurhu

25. Tumpak ni piring ledeng, paledang-ledang pahu
Loja do hapeni inang, pagodang-godang kon au

26. Laklak itallik-tallik, i lambung ni pea-pea
halak na tahan marsik, ujungni jadi jolma na hasea

27. Lak-lakni tamba tua, hoppa mambuat kuah
Pasangap orang tua, tong-tong dapotan tuah

28. Lampuyang sakaranjang, bulung ni seng sadiha
Akkula do marganjang, uhur seng ope sadiha

29. Marboras ma halawas, i jual hu Belanda
Horas ma nasiam martugas, haganupan wartawan
30. Haporas ni silongkung, i huning i tubai
Anggo domma harosuh, ulang isumengi, lang ibadai

31. Isuan ma timbaho, isuan manoran-noran
Paubah ma parlaho, ulang songon sapari, ase iharosuhkon hasoman

32. Talaktak porling, sogop i bukkulan ni sopo
Indahan ni mata do borngin, ulang lalap ibodei lapo

33. Ulang ihondor gumba, timbaho sihondoran
Ulang martonggo rupa, parlaho do sitonggoran

34. Anduhur pinurputan, tading iparsobanan
Anggo uhur tinurutan, lang mar parsaranan

35. Rage anak ni bintang, rage so hapulhitan
Buei do hata namantin, paima tangan dapotan

36. Timbaho ni simarban, ulang mago sanrigat
Age lingot panonggor, ulang lupa pardingat

37. Boras sabur-saburan, iboban ni pinggan pasu
Horas hita ganupan, sai jumpahan pasu-pasu

38. Itarik gula, itanik songon tali
Age pe otik nasinari, ulang marsurei

39. Irlak-irlak ma senter, itoru ni durian
Lang adong labuni jenges, anggo talu do ujian

40. Initak ma sambor-bor, boras ronggit-ronggitan
Ijon hita manortor, ulang be borit-boritan

41. Lang be tartalgis hon, pagaman ma na ronggos hon
lang be tartangishon, paganan ma na tor-torhon

42. Habang ma kapal terbang, mamboan pinggan pasu
Age daoh ham marlajang, ulang lupa ham hubakku.

dikutip dari berbagai sumber
Selengkapnya...

Klik disini untuk melanjutkan »»
 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by BLOG | Power by blog