Latest Post

Hidup Sederhana Bermartabat Dengan Budaya Simalungun


Sore hari, jika kita menuju pematang raya, kita dapat melihat banyak penjual jeruk yang menggelar dagangan nya dengan tenda tenda. Jeruk raya yang dijual rata rata langsung di ambil dari ladang nya, terasa manis dan segar bahkan bisa di petik langsung. Beberapa mobil mewah terlihat berhenti untuk menimbang dan berbelanja satu dua kilo jeruk. Satu tenda yang berbeda dari yang lainnya adalah sopou jeruk milik Amri Sumbayak yang berada di Merek Raya. Sopou tersebut merupakan hasil kreasi pemiliknya, khas simalungun seperti yang dapat kita lihat di rumah bolon pematang purba. 

Amri Sumbayak sendiri yang membuatnya dengan mencari bahan bahan dari bambu dan kayu yang ada di sekeliling nya, tampak sederhana tapi terlihat anggun dengan ada nya pinar (ornament) simalungun di setiap tiang dan atap. Ketika Tim Komunitas Jejak Simaloengoen bertanya tentang motivasi apa yang membuat diri nya mau membuat sopou khas simalungun, ia menyatakan bahwa ia sudah hobby dan tak bisa berhenti berkarya. “Sudah lama aku belajar mar uhir, di kepala ku selalu saja melintas banyak ide ide, tak pernah berhenti dan ingin mencipta ragam uhir simalungun begitu saja” jawabnya sederhana. Bakat kata orang tua. Lantas, ia tak pernah berpikir panjang tentang biaya pembuatan sopou yang nyaris jauh harga, tidak sesuai antara modal dan keuntungan dari menjual dagangan jeruk.



Amri Sumbayak sejak muda sudah memiliki minat yang tinggi terhadap seni uhir (ornament) simalungun yang dia pelajari secara otodidak. Dengan hanya berbekal pengalaman belajar dari orang tua pendahulu, satu buah buku panduan uhir, ia memiliki intuisi untuk menempatkan beragam jenis uhir dengan komposisi warna dan corak yang tepat. Ia sering di ajak untuk membantu membuat uhir di gedung milik instansi swasta atau pemerintah. Tapi semenjak ada pergantian proyek dengan datang nya pemborong baru, ia tidak mendapat order untuk ikut lagi bekerja.

“Kalau tidak mang-uhir, aku berladang jeruk lah” tambah nya. Hidup serba pas dan sederhana tidak menghalangi Amri Sumbayak untuk terus berkarya. “Sopou ini lah hasil karya ku, masih banyak lagi sebenar nya di kepala ini mau mau menambah corak dan ornament, belum lagi kepala horbou nya. Tapi ku tunda dulu karena kurang dana. Ini baru separuh selesai. Isteri ku sampai marah marah, habis uang untuk membuat sopou. Itu pun tak selesai selesai, masih ada saja yang ditambah…ini lah ..itu lah…” ungkapnya tertawa.
Hidup memang aneh dan tidak selalu di ukur dengan ekonomi. Kita dapat melihat, sesuatu yang berbeda dari sosok keluarga sederhana Amri Sumbayak. Kekayaan budaya dan seni simalungun telah mengisi dan mengalir dari dalam hati dan darah nya. Menjaga martabat, bahwa ia memiliki idealisme di tengah tengah keterbatasan dan ia tidak mau diri nya dihitung dengan uang. 



Berkarya walau sederhana selalu mendatangkan kebahagiaan. Maju lah genius lokal dan seniman seniman simalungun…horas….


 

Pantun / Umpasa Simalungun III

Andor hadungka,Togu toguni lombu... 
" Sai sayur matua,Ronsi patogu togu pahompu "



 Hodongni birah do,Rokkat ni bagod ...
" Dosni uhur do,Sibahen na saud "

 Nisuan sanggei sanggei,I buttuni luhutan...
" Nasiam ma gabei,Anggo marsipaihut ihutan "


 Sin Raya sini Purba,Sin Dolog sini Panei...
" Manlangkah pe lang mahua,Asalma marholong ni atei  "

 Ipongkah buluh balangkei,Sigeini bagod puli...

" Pinungkahni oppungta na parlobei,Ihutkononni na parpudi   "


Haporas ni sin Lokkung,Etek-etek marpira...
" Anggo jolma harosuh,Etek pe na paima "


Ai Ma Tongon..!!!   

lanjut nassiam...!!!

 

Umpasa atau Pantun Simalungun II

Boras san supak,Boras san nangging...
Horas ma nasiam na mulak,Horas homa hanami na tading...



Timbahouni si morbou
Ulung magou san rihat
Age lingod panonggor
Ulang magou pardingat

Talun ni Purba saribu
Tubuhan hare hare
Hata podah hata pasu pasu
Sai ulang muba sai ulang mosei


Asarni poldong poldong
I buntu ni tapian
Mamasu masu ma hanami tondong
Sai roh ma parsaulian

Asarni hati nong nong
I buntu ni tapian
Anggo mamasu masuma tondong
Lambin tambahma pansarian








AI MA TONGON   !!!!!!!
 

musisi terkenal asal simalungun "Bill Saragih "

Pemusik Jazz serba bisa Bill Amirsjah Rondahaim Saragih Garingging atau Bill Saragih, lahir di Sindaraya, Simalungun, Sumatera Utara, 1 Januari 1933. Anak ke-5 dari 11 bersaudara dari keluarga Jan Kadoek Saragih sempat mengenyam pendidikan di bangku kuliah fakultas hukum Universitas Indonesia tahun 1962-1964. Pada usia enam belas tahun, ia telah menjadi pemimpin band Billy Trio (1949-1954). Mulai bermusik secara profesional di Hotel Indonesia, Jakarta, awal tahun 1960-an bersama musisi Victor Tobing, Sal Salius, Poltak Hutabarat dan Jack Lesmana.

Memimpin band Jazz Riders (1962-1965) sebelum akhirnya mulai memimpin band-band yang memanggul namanya yang tampil di luar negeri seperti Bill Saragih and The Blue Notes (1966-1972) di Bangkok, Thailand dan Bill Saragih Trio (1972-1979) di Sydney, Australia.


Tahun 1978, mulai mempelajari cara mengajarkan musik jazz lebih mendalam dengan, meraih diploma dari Berkeley College of Music lewat Berkeley Correspondence Course. Belajar pada David Baker dari Universitas Indiana, Amerika Serikat, dan Jamey Aebersolo mengenai pengajaran improvisasi musik jazz. Setelah itu, antara tahun 1979-1988, Bill menjadi Direktur dan Pengajar di Bill Saragih Musical Services.

Menikah dengan Anna Rosemary dan dikaruniai dua orang anak John Anthony dan Leoni Tiana. Bill lebih banyak menghabiskan masa hidupnya di luar negeri, terutama Australia. Menetap di Australia dari tahun 1972 dan baru kembali ke Indonesia tahun 1987.

Bill seorang musisi dan penghibur serba bisa. Dia penghibur yang sangat komunikatif dengan banyolan serta vokal yang sering dimiripkan dengan suara serak Louis Armstrong. Selain piawai sebagai penyanyi, Bill juga bisa memainkan instrumen piano, saksofon, flute, dan vibrafon.

Bill Saragih banyak meraih berbagai penghargaan dalam karier bermusiknya, diantaranya ; JIJF Awards dari Jakarta International Jazz Festival (1991),  The Blue Note Award dari Blue Note (1977-1998), Asean Development Citra Award dari Asean Program Consultant Indonesia Consortium,  Award dari PT Java Festival Production dan Jakarta Jazz Society.
    Bill Saragih juga aktif di berbagai organisasi, seperti ; Musicians Union of Australia (1972-1988), Music Arranger Guild of Australia (1975-1988), Indonesian Composers Right Association (1992 s/d Wafat).

    Bill Saragih meninggal dunia dalam usia 75 tahun pada hari Selasa 29 Januari 2008 pukul 11.15 WIB di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan, karena stroke dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada tanggal 1 Februari 2008.   (dari berbagai sumber)
     

    Umpasa / Pantun Simalungun I

    Nisuan sanggei sanggei I buttuni luhutan
    Nasiam ma gabei Anggo marsipaihut ihutan

    Ipongkah buluh balangkei, sigeini bagod puli
    Pinungkahni oppungta na parlobei,ihutkononni na parpudi

    Sordam ni urang-iring, sogop i barung-barung
    Hatamu do magigi, uhurmu margagayung

    Nisuan sanggei sanggei I buttuni luhutan 
    Nasiam ma gabei Anggo marsipaihut ihutan

    Ipongkah buluh balangkei, sigeini bagod puli
    Pinungkahni oppungta na parlobei,ihutkononni na parpudi

    Sordam ni urang-iring, sogop i barung-barung
    Hatamu do magigi, uhurmu margagayung


    tambahi nassiam hanjin tene....
     

    JR Saragih Minta Dukungan

    SIMALUNGUN-Bupati Simalungun JR Saragih kembali minta dukungan dari masyarakat Simalungun untuk menjalankan roda pemerintahan dan pembangunan di daerah itu. Permintaan itu menyusul munculnya pendapat sejumlah pihak pihak bahwa ia memimpin secara arogan
    “Saya membutuhkan dukungan semua masyarakat supaya orang tidak menganggap saya arogan menuju perubahan yang lebih baik, termasuk dukungan dari PDI Perjuangan. Baju boleh berbeda, namun tujuan satu untuk membangun Kabupaten Simalungun yang lebih baik,” katanya.
    Hal itu disampaikan DR JR Saragih MM saat memberikan kata sambutan dalam acara sosialisasi, seminar, dan Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2010 PDI Perjuangan Kabupaten Simalungun di Balai Bolon Cadika Jalan Asahan KM 4 Kecamatan Siantar, Senin (22/11).

    “Saya akan membangun Simalungun dengan tidak membeda-bedakan agama, suku dan hal lainnya, dan akan transparan dalam segala hal,” jelasnya.

    Ke depan, katanya, khusus untuk dana partai-partai di Simalungun, Pemkab akan transparan dalam penentuan anggaran untuk partai yang akan dimasukkan dalam APBD.

    JR juga berjanji mendukung penyaluran bantuan kepada para petani di Simalungun, menaikkan gaji pangulu dan perangkatnya, dan akan membangun jalan-jalan di nagori-nagori yang berlokasi di perkebunan dengan cara melibatkan pihak kebun. (ral/smg)

    sumber: SUMUT POS
     

    BUNUH DIRI

    Aikhh... halani gati magouan duit,bunuh diri. Ai sonaha mando lo lakan??
    songon on ma cerita ni bani barita...

    SIMALUNGUN-Seorang ibu rumah tangga (IRT) bernama Dorma Saragih Dajawak (51), warga Sigundaba, Nagori Sondi Raya, Kecamatan Raya, Simalungun, nekat bunuh diri dengan minum racun rumput jenis Gromoxone Senin (15/11) dini hari. Korban melakukan aksi itu itu diduga karena stres sering kehilangan uang miliknya tanpa diketahui siapa pencurinya.
    Salah seorang keluarga korban, Jhon Martuah Saragih, menuturkan, kejadian tersebut bermula saat Dorma berbincang-bincang dengan suaminya Sariaman Purba sekitar pukul 02.00 dini hari.
    “Saya tidak tahu kenapa sampai nekad minum racun. Keluarga mereka selama baik-baik. Yang saya ketahui dia pernah mengeluh sering kehilangan uang. Dia mengaku stres karena tidak tahu siapa pelaku pencurinya,” katanya. (hot/smg)

    sumber : SUMUT POS
     

    Simalungun Tuan Rumah Pesta Danau Toba 2010

    http://www.hariansumutpos.com

    SIMALUNGUN–Kabupaten Simalungun kembali dipercaya sebagai tuan rumah penyelenggaraan Pesta Danau Toba (PDT) tahun 2010 yang akan dilaksanakan 20–24 Oktober 2010 mendatang di Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon. Sebagai tuan rumah, budaya Simalungun diharapkan menjadi prioritas dalam mengisi acara tersebut. PDT itu sendiri akan diikuti Kabupaten Karo, Pak-Pak, Humbahas, Taput, Tobasa, Samosir dan Simalungun sebagai tuan rumah dan rencananya akan dibuka Menteri Parawisata Zero Wacik dan ditutup oleh Menteri Perhubungan Hatta Rajasa.

    Kadis Parawisata Simalungun Karshell Sitanggang, Senin (27/9), mengatakan, tari dan seni musik Simalungun akan menjadi pertunjukan pembukaan. Simalungun juga akan mengkuti seluruh cabang perlobaan
     

    Gonrang Simalungun

    Musik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan. Dari semua karya seni, mungkin sekali musiklah yang paling mempengaruhi tradisi budaya untuk menentukan patokan-patokan sosial dan patokan-patokan individu, mengenai apa yang disukai dan apa yang diakui. Musik dapat mencerminkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip umum yang mendasarinya, yang menghidupkan kebudayaan tersebut secara menyeluruh.

    Gonrang (istilah bahasa Simalungun untuk “gendang”) salah satu alat musik dari daerah Simalungun, yang telah lama ada dan berkembang di daerah Simalungun. Musik gonrang tidaklah hanya apresiasi seni semata, tetapi juga mau memperlihatkan makna dan fungsi yang sangat mendalam bagi kehidupan masyarakat Simalungun khususnya. Makna dan fungsi gonrang terwujud sebagai suasana pengungkapan hati, sebagai sarana hiburan, sebagai sarana komunikasi. Musik gonrang juga sebagai representasi simbolis yang mencerminkan nilai-nilai, pengaturan kondisi sosial dan perilaku kultur lainnya serta sebagai peneguh ritus-ritus keagamaan dan ikatan sosial.

    Maksud tulisan ini adalah untuk membahas kelima fungsi gonrang Simalungun yang disebutkan diatas.

    Fungsi Musik gonrang dalam komunitas masyarakat simalungun:

    1. Sebagai pengungkapan suasana hati
    Dimanapun di dunia ini, tampak jelas bahwa musik mempunyai peran yang kuat dalam mengungkapkan suasana hati seseorang. Pengungkapan suasana hati itu dapat bersifat spesifik seperti halnya pada lagu yang bernuansa politis maupun lagu-lagu percintaan yang mau mengungkapkan perasaan dan kepuasan diri. Apapun jenis suasana hati yang diekspresikan dalam proses pembuatan musik, akan menggugah reaksi dari para pendengar dan reaksi itu tidak lepas dari pementasannya. Maksudnya adalah nuansa lagu yang dibawakan disesuaikan dengan suasana pesta. Sebagai contoh, untuk pesta perkimpoian, pesta panen dan pesta meriah lainnya tentu sangat berbeda nuansa musiknya dengan suasana kematian atau kesedihan.

    Salah satu faktor yang dianggap penting dalam menentukan reaksi suasana hati terhadap musik di kalangan masyarakat Simalungun adalah tempo musik yang dibawakan. Untuk menunjukkan suasana gembira, maka dipakai tempo sedang hingga tempo cepat. Sedangkan tempo lambat umumnya dipakai untuk yang berhubungan dengan hal-hal musibah, kekecewaan, kesedihan dan kerinduan hati. Banyaknya lagu-lagu sedih di daerah Simalungun dan digunakannya istilah inggou menggambarkan makna suasana hati dari lagu-lagu tersebut serta persepsi masyarakat Simalungun terhadap lagu-lagu tersebut. Pengungkapan perasaan mungkin paling mudah dan sederhana untuk difahami dari lirik yang dikandungnya.

    Para pemain musik gonrang mempunyai peran penting dalam suasana ini. Para pemusik menjadi pemicu dalam memulai dan memfasilitasi pengungkapan perasaan yang sesuai untuk masing-masing situasi dengan cara “menghidupkan” gual (lagu yang dimainkan pada ansambel musik gonrang) yang dibawakan. Sebagai contoh, dalam tortor sombah (tortor = tarian, sombah = sembah) dimulai oleh pihak boru (orang atau klan yang menjadi pihak penerima istri kepada yang bersangkutan) dan mengarahkan kepada pihak tondong (orang atau klan yang menjadi pihak pemberi istri dari yang bersangkutan).

    Sikap sembah diwujudkan dengan mengatupkan telapak tangan dengan ujung jari menghadap ke atas dan disentuhkan pada dahi, dengan sikap seperti ini pihak boru menghampiri pihak tondong. Sambil menarikan tortor sombah dihadapan pihak tondong, pihak boru memohonkan kasih sayang yang manja dari pihak tondong. Maka kerendahan hati merupakan makna dari inti tarian yang dibawakan oleh boru yang diungkapkan dalam konteks tarian dan musik yang dibawakan.

    2. Sebagai sarana hiburan
    Salah satu fungsi musik gonrang bagi masyarakat Simalungun adalah sebagai sarana hiburan. Karena kurangnya kesempatan untuk menikmati suasana istirahat dari kerja, maka pada saat pesta merupakan kesempatan untuk beristirahat dari aktivitas kerja. Pesta merupakan salah satu bentuk acara selingan. Ada sejumlah pesta yang dilaksanakan setiap tahun, yang termasuk di dalamnya yaitu Manumbah (penyembahan tempat keramat maupun arwah para nenek moyang).

    Ada pesta yang diselenggarakan pada saat-saat khusus : pesta palaho/paroh boru (pesta pernikahan), pesta mangalo-alo tamuei (pesta penyambutan tamu atau undangan istimewa), mamongkot jabu (selamatan memasuki rumah baru) dan masih banyak kesempatan lain yang dijadikan suasana pesta. Salah satu kebiasaan dalam berpesta adalah mengundang antara kampung yang satu dengan kampung yang lain yang memiliki ikatan hubungan tondong, boru dan sanina (mereka yang berasal dari marga dan sub-marga yang sama dengan yang bersangkutan) untuk memeriahkan pesta tersebut.

    Pada pelaksanaan pesta tersebut, biasanya para undangan dengan sabar mengikuti acara, khususnya pada acara adat penting dan menunggu sampai pada kesempatan mereka untuk menari. Salah satu kebiasaan pada saat menari, para undangan akan meminta gual yang menjadi kesukaan mereka (umumnya untuk pesta-pesta meriah). Kaum muda-mudi, karena belum mendapat posisi dalam masyarakat biasanya baru mendapat giliran untuk menari pada akhir-akhir acara. Untuk mereka, ini adalah kesempatan untuk bersosialisasi satu sama lain dan kesempatan untuk belajar menari pada pesta-pesta resmi.

    Selain pada kegiatan adat dan tradisi musik gonrang yang disebutkan diatas, musik merupakan sarana hiburan pada kesempatan lain. Para warga, khususnya kaum pria, suka berkumpul pada malam hari sambil bernyanyi dan memainkan alat musik seperti : gitar, seruling, harmonika dan alat musik lainnya sebagai sarana hiburan.

    3. sebagai sarana komunikasi
    Para ahli musik telah mengakui fungsi kesenian musik adalah sebagai sarana komunikasi. Lewat nuansa musik yang dibawakan, mereka mau mengkomunikasikan seluruh perasaannya secara simbolis, baik yang menggembirakan maupun yang sedih. Nuansa kesedihan, kekecewaan dan kesepian biasanya diungkapkan dengan lirik dan bunyi lagu-lagu percintaan maupun lagu-lagu perpisahan. Kita akan lebih merasakan perasaan hati seperti ini pada sejumlah gual yang bertempo lambat. Bunyi musik juga dapat menyajikan suasana hati tertentu yang dapat membantu untuk mengungkapkan perasaan hati dan inti dari lirik yang dinyanyikan.

    Selain itu, musik gonrang juga mau mengkomunikasikan identitas etnis. Sebagai salah satu dari sekian banyak kelompok etnis di Indonesia, masyarakat Simalungun yang tertarik pada tari-tarian dan musik tradisionalnya, sangat menyadari keunikan musik mereka, baik di dalam maupun di luar tradisi gonrang. Pada acara-acara silaturahmi, sebagian dari anggota masyarakat sering muncul “nasionalisme primitif kesukuan” dengan musik, tarian dan adat sebagai titik tolak semangat. Pada acara seperti ini kerap kali sangat membantu penyebaran musik dan tari-tarian Simalungun, yang mempengaruhi musik dan tari-tarian nasional Indonesia. Dengan demikian, musik Simalungun merupakan suatu acara guna mengkomunikasikan karakter dan kebanggaan etnis mereka.

    4. Sebagai Representasi Simbolis
    “Musik mencerminkan nilai-nilai, pengatur kondisi sosial dan perilaku kultur lainnya.”
    Musik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan. Dan sebagaimana aspek-aspek kebudayaan lainnya, musik niscaya akan mencerminkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip umum yang mendasarinya, yang menghidupkan kebudayaan tersebut secara menyeluruh.

    Ansambel musik gonrang mempunyai hubungan erat dengan struktur adat. Status para pemain musik dalam suatu ansambel musik gonrang didasarkan atas jenis alat musik yang dimainkannya. Si peniup sarunei (alat musik tiup yang memiliki tujuh buah lubang jari) selalu diakui sebagai pemimpin di antara mereka (secara musik maupun secara adat). Ia mempunyai peranan yang sangat besar dalam menentukan ansambel musik yang akan dimainkan. Menurut adat juga, bila pihak yang meminta gual memberikan penghargaan maka si peniup sarunei-lah yang harus menerima penghargaan tersebut. Dalam hal pendapatan di antara anggota pemain musik, ia juga yang akan mendapat imbalan yang lebih besar.

    Tingkatan kedua yaitu para penabuh ansambel gonrang (gonrang si dua-dua atau gonrang bolon). Untuk gonrang si dua-dua umumnya hanya dimainkan satu atau dua orang saja, sedangkan untuk gonrang bolon umumnya dimainkan dua atau tiga orang. Mereka ini menabuh gonrang sedemikian rupa sehingga mampu memainkan gual yang dimintakan dengan mengikuti pola irama dari sarunei. Pertingkatan di antara penabuh hampir tidak ada, namun umumnya penabuh gonrang yang lebih mahir dalam memainkannya diakui sebagai yang menentukan.

    Tingkatan yang ketiga yaitu para pemukul gong dan mongmongan (dua buah gong kecil yang digunakan sebagai tanda bunyi kolotomis). Meskipun musik dapat dimainkan tanpa didampingi oleh pemukul gong dan mongmongan, tetapi umumnya bagian ini juga selalu diikutkan. tugas mereka adalah membawakan kerangka dari gual tersebut, yang tujuannya untuk menambah nilai rasa dan tekanan yang menetap pada gual yang dimainkan. Sekali mereka mendapat pola yang pas dari gonrang dan sarunei, tugas mereka hanya mengulangi pola tersebut sampai gual berakhir.

    Pertingkatan pada pemeran ansambel musik gonrang juga mempunyai hubungan dalam kelompok adat Simalungun. Sebagaimana pemain sarunei adalah sebagai pemimpin diantara pemain ansambel lainnya, maka kelompok tondong menduduki posisi sebagai pemimpin pada acara-acara adat (juga dalam hidup sehari-hari). Kemudian diikuti oleh kelompok boru sebagai kelompok kedua yang sangat erat hubungannya dengan tondong. Pihak tondong senantiasa memperhatikan dan memperlakukan boru-nya dengan baik dan bahkan memberikan berkat agar mereka senantiasa hidup sejahtera. Kelompok ketiga adalah kelompok sanina (keanggotaan marga dan sub marga yang berpesta). Sebagaimana pemukul gong dan mongmongan yang menambah nilai rasa pada ansambel musik gonrang, kelompok sanina ini merupakan penolong khususnya saat mempersiapkan acara pesta, pendamping bagi boru dan bagian dari boru itu sendiri.

    Walaupun pengelompokan tondong, boru dan sanina dalam struktur adat mempunyai hubungan yang sangat erat dengan si peniup sarunei, penabuh gonrang dan pemukul gong dan mongmongan dalam ansambel musik gonrang, tetapi di antara kelompok ini praktisnya masih terdapat perbedaan. Pada ansambel musik gonrang, para pemainnya sangat jarang saling “bertukar posisi” atau tukar peran dalam memainkan ansambel musik gonrang.

    Hanya dimungkinkan antara penabuh gonrang dengan pemukul gong dan mongmongan yang saling bertukar posisi. Pada konteks adat, posisi seseorang ditentukan oleh ikatan hubungan dengan pihak yang menyelenggarakan pesta. Dalam suatu pesta umpamanya, posisi seseorang dapat sebagai tondong namun pada saat pesta lain, dapat sebagai boru atau sanina. Jadi, seseorang dapat menempati ketiga posisi yang ada dalam kelompok ini. Dengan demikian akan ada keseimbangan, karena semua orang berkesempatan untuk memerankan salah satu dari ketiga kelompok ini dalam suatu pesta.

    5. sebagai peneguh ritus-ritus keagamaan dan ikatan sosial
    Salah satu kebiasaan baik bagi masyarakat Simalungun dan seluruh masyarakat Batak umumnya adalah adanya kebiasaan martutur (menelusuri silsilah satu sama lain). Hal ini dilakukan bagi mereka yang belum saling mengenal satu sama lain. Setelah saling mengetahui silsilah masing-masing, mereka akan dapat memposisikan diri satu sama lain berdasarkan aturan adat mengenai tata cara ikatan hubungan antara tondong, boru dan sanina. Ini merupakan norma yang mendukung terciptanya ikatan sosial yang kuat dalam kalangan masyarakat Simalungun.

    Adat dan kelompok adat adalah unsur-unsur yang paling sentral dan kuat di kalangan masyarakat Simalungun, maupun masyarakat Batak umumnya. Kekuatan adat tersebut ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari melalui acara seperti tari-tarian adat yang dipentaskan hampir pada setiap pesta. Gual yang dibawakan pada acara tersebut pada umumnya gual yang mengingatkan pihak tondong, boru dan sanina akan tata cara keharmonisan sikap dan tindakan diantara mereka. Sikap dan kasih sayang serta tindakan mencurahkan berkat harus dipraktekkan dalam konteks sosial lingkup suasana gual yang dibawakan. Musik gonrang dijadikan sebagai sarana untuk menjaga kelangsungan nilai-nilai kultural dan keagamaan. Musik gonrang menjadi alat untuk pengikat dan peneguh ikatan sosial dan upacara-upacara kultural maupun keagamaan yang dianggap penting oleh masyarakat Simalungun.


    sumber: http://www.mycultured.co.cc
     

    RAJA SANG NAUALUH

    KEPAHLAWANAN RAJA SANG NAUALUH DAMANIK

    Raja Sang Naualuh Damanik Bariba, lahir di Pematang Siantar tahun 1857. Ia merupakan Raja ke XIV yang memerintah dari tahun 1882–1904. Kerajaan Siantar didirikan oleh Partigatiga Sipunjung pada tahun 1350 dan Sang Naualuh merupakan generasi penerus yang semangat perjuangannya tidak jauh berbeda dengan nenek moyangnya tersebut. Selama memimpin Kerajaan Siantar, ia sangat gigih berjuang menentang penjajahan Belanda, baik secara fisik maupun secara politis. Akibat perlawanan dan penolakannya menandatangani tanda takluk kepada Belanda yang dikenal dengan ‘Korte Verklaring’ akhirnya putra terbaik Simalungun tersebut ditangkap penjajah Belanda pada 1904.


    Selama dua tahun di dalam tahanan, Belanda belum juga merasa puas ia lalu diasingkan seumur hidup ke Pulau Bengkalis pada tahun 1906.
    Selama memimpin Kerajaan Siantar, Raja Sang Naualuh sangat dicintai rakyatnya. Ia juga dikenal sebagai pelopor, penganut dan pelindung agama Islam, khususnya di Kerajaan Siantar. Di samping itu, Raja Sang Naualuh merupakan perintis pembangunan kota Pematang Siantar.
    Salah satu peranan Raja Sang Naualuh adalah membuka dan merintis jalan dari Pematang Siantar menuju Asahan, sejauh 50 kilometer. Jalan tersebut hingga saat ini menjadi jalan yang sangat vital yang menghubungkan Pematang Siantar, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Batubara dan Kabupaten Asahan. Kalau dulu, nama jalan lebih dikenal dengan nama Jalan Asahan, saat ini nama jalan tersebut telah ditetapkan sebagai Jalan Sang Naualuh.
    Raja Sang Naualuh mangkat di Bengkalis tahun 1914. Sebelum akhir hayatnya, di daerah pengasingannya beliau sempat menjadi guru mengaji. Lokasi makamnya berada di tanah wakaf Syech Budin Bin Senggaro beralamat di Jalan Bantan Desa Senggaro Kecamatan Bengkalis Kabupaten Bengkalis Riau. Hingga saat ini makam Raja Siantar ini masih terawat baik dan sering dikunjungi para peziarah, baik itu peziarah dari Bengkalis, maupun yang datang dari Pematang Siantar dan Kabupaten Simalungun.
     

    Presiden SBY Batal Buka Pesta Danau Toba

    MEDAN - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang semula dijadwalkan membuka Pesta Danau Toba (PDT) 2009 di Parapat, Rabu (7/10/2009), dipastikan batal hadir.

    Hal ini disampaikan Ketua Umum Panitia PDT Sujono Manurung, Selasa (6/10/2009). "Sampai saat ini kami belum menerima konfirmasi kehadiran Presiden. Kemungkinan memang tidak bisa datang. Karena semua jadwalnya berubah akibat

    musibah gempa di Sumbar," papar Sujono ketika dihubungi via ponsel.

    Menurut Sujono, Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin akan menggantikan SBY untuk membuka PDT 2009. Selain itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut Nurlisa Ginting juga akan hadir dalam pembukaan ajang pariwisata tahunan tersebut.

    Sementara itu, Direktur Jenderal Pemasaran Depbudpar Sapta Nirwandar kemungkinan besar juga tidak akan hadir dalam pembukaan PDT 2009. "Beliau masih di Padang, karena ada keluarganya di sana. Tapi perwakilannya akan hadir dalam pembukaan besok," tambah Sujono.

    PDT 2009 akan digelar selama lima hari hingga Minggu, mendatang. Beragam kegiatan lomba, pertandingan olahraga, penampilan seni dan budaya, serta pameran industri kecil dan menengah akan ikut meramaikan ajang tersebut.

    from: OKEZONE.COM
     

    Download Lagu Simalungun

    Yang sangat memberi pengaruh kerinduan saya untuk tanah Simalungun, adalah lagu-lagunya. Lagu-lagu ini juga bisamemberi kepuasan saat merindukan tanah kelahiran. Moga bermanfaat untuk anda. Walaupun ini sangat belum lengkap saya sangat berterima kasih atas kunjungan anda..

    Silahkan Download !!!

    Jhon Eliaman Saragih

    Borit Do Begeian Hatamin
    Boru Purba
    Cinta Jarak Jauh
    Danau Toba
    Doding Kado Pengantin
    Eta Maranggir
    Friska
    Gumisni Huting
    Iluh I Bandara
    Lalap Marangan-angan
    Lang Tarpabuni
    Marbapa Dua
    Mardatu
    Marih Si Bahuei
    Mase
    Masema
    Mulani Pargaulanta
    Paris Ni Udan
    Pintor Bilang



    DAMMA Terbaru

    Barita Hun Simalungun
    Hoi
    Idolaku
    Lince
    Manriah
    Nini
    O..Raru
    Sarupa Do Jambarta
    Seng Pitah Ham
    Tangis Lang Tar Tangishon



    Serly Saragih
    Ai Botou


    Marmasi Trio
    Dingis Na Lang Marasar


    Ladies Trio
    Anak Matani Arikku

    AGAVE GROUP
    Polisi Toba


    Trio Mora
    O..Simalungun


    Zenny MT
    Oe Pelo Botou
    Zenny MT ft Huristina S
    Lungun Tumang Huahap


    Yuli S
    Hayu Na Melus
    HolongalahanLopah


    Jhon Kariando

    Abingma Pahoppumon


    NN
    Haporas Ni Silokkung




    Lagu Rohani Simalungun

    5 Roti 2 Dekke
    Bai Pardalanan
    Bujur Do Naibata
    Hamajuonni Jaman
    Hu Sombah Ham Tuhan
    Idilo Tuhan Naibatanta
    Jaloma Jesus
    Markuasa
    Mattin Ni In
    Monang Do Au
    Naha Do Pangahapmu
    Titah Palimahon
    Tolong Ham MA Tuhan
    Tuhan Ham Sortalikku



    kita akan berusaha kalo ada yang maw request lagu...!!!

    Terimakasih....

     

    Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Simpang TKA Bungo

    GKPS Simpang TKA Bungo, Komunitas Kecil yang Teraniaya
    Sebanyak 33 keluarga komunitas Nasrani, warga Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Simpang TKA kilometer 44, Desa Rantau Ikil, Kecamatan Jujuhan, Kabupaten Muarobungo, kini teraniaya oleh sekelompok warga setempat yang tak bertanggung jawab.
    Bahkan pembakaran 30 unit rumah milik warga pendatang asal Simalungun dan Karo Sumatera Utara 28 Juli 2007 lalu, menyisakan luka mendalam umat Nasrani di sana. Bahkan warga pendatang itu diwajibkan membayar denda
    Rp 90 juta sebagai perdamaian secara adat.


    Padahal yang menjadi korban pembakaran itu adalah saudara kita yang mengadu nasib sebagai petani kebun di desa tersebut sejak 10 tahun silam. Sungguh tidak adil. Sepertinya saudara kita disana teraniaya.
    Pendeta GKPS Resort Jambi, Pdt Jhon Rickky R Purba, STh kepada penulis menuturkan, dari 30 unit rumah warga asal Sumut yang dibakar di Simpang TKA, lima diantaranya milik warga GKPS Simpang TKA, Resort GKPS Jambi.

    Masing-masing Sy S Silalahi/br Simanjuntak, Maston Naibaho/br Saragih, Bernath Barus/br Jawak, Johan Barus/br Sinaga dan Bendehara GKPS Simpang TKA, Sy.J Damanik, Bong Manalu.

    Seluruh harta benda milik warga GKPS itu, habis dijarah dan dibakar orang tak bertanggung jawab itu. Bahkan uang gereja GKPS Simpang TKA juga ikut dijarah habis oleh warga yang membakar rumah pendatang itu.

    Dibongkar Paksa

    Jiwa yang teraniaya yang dialami warga GKPS Simpang TKA, tidak hanya pada tempat tinggal mereka. Sebuah rumah peribadatan (gereja) milik GKPS Simp TKA juga ikut terkena imbas yang berujung pada pembongkaran paksa oleh perangkat desa dan pejabat kecamatan.

    Pendeta GKPS Muarobungo, Pdt E D Sinaga, STh menceritakan, sudah tiga kali gereja semi permanen GKPS Simp TKA dibakar sekelompok orang tidak bertanggung jawab (warga desa setempat). Tahun 2003 lalu merupakan pembakaran yang cukup parah.

    Bangunan gereja GKPS Simp TKA sudah dipindahkan kelokasi yang jauh dari pemukiman warga setempat non Nasrani. Sebanyak 33 KK warga GKPS Simpang TKA sudah mengumpulkan tanda tangan sebagai syarat membangun gereja di dekat pemukiman mereka.


    Sebagai kepedulian St R.K Purba, salah satu tokoh Simalungun GKPS di Jambi sangat terharu mendengar kondisi gereja GKPS Simp TKA tersebut. Dirinya juga memberikan motivasi kepada warga GKPS Simp TKA untuk tetap berusaha mendekatkan diri dengan warga sekitar.

    “Saya harapkan terus dilakukan pendekatan persuasif. Sehingga izin bangunan tersebut dapat keluar. Saya bersedia menyumbangkan seluruh atap seng untuk gereja tersebut. Semoga warga GKPS Simp TKA sabar dan teguh dalam iman. Saya juga menyumbangkan seng untuk bangunan gereja tersebut,” demikian kata St RK Purba saat Synode GKPS Resort Jambi, awal Maret lalu.

    Kronologis


    Pembongkaran paksa geraja GKPS Simpang TKA yang berlokasi di Dusun Baru, Desa Rantau Ikil, Kecamatan Jujuhan, Kabupaten Bungo, kembali terjadi, Senin, 30 Juli 2007. Pembongkaran rumah Tuhan itu disaksikan rombongan Pdt GKPS Resort Jambi. Hanya sebuah Podium yang bersisa dari pembongkaran paksa itu.


    Kronologis pembongkaran gereja itu, awalnya dari surat tertanggal 20 Juli 2007 Kades Rantau Ikil Nomor 451.1/390/Pem, hal pemberitahuan. Isi surat dari kesepakatan pemerintah desa, pemuda masyarakat dan segenap lapisan masyarakar Rantai Ikil menghimbau dan mengingatkan kelompok masyarakat Kristiani untuk tidak melanjutkan pembangunan gereja.

    Dalam surat itu dituliskan, karena pembangunan gereja di Dusun Baru Petanun maupun di semua tempat dalam wilayah Desa Rantau Ikil, dapat menciptakan dan memperluas konflik secara horizontal yang dapat merusak hubungan baik antar warga dan akhirnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

    “Apabila saudara beserta kelompok masyarakat Kristiani di maksud tidak mengindahkan pemberitahuan ini, maka kami atas nama pemerintah desa tidak bertanggung jawab bila terjadi hal-hal yang tidak di inginkan tersebut kemudian hari,” demikian isi terakhir surat yang ditanda tangani Kades Rantau Ikil dan Ketua BPD Rantau Ikil.

    Pada tanggal 23 Juli 2007, datang Kepala Desa Rantau Ikil-Yusri, Camat Jujuhan-Afri Asianto S Sos, Ketua Pemuda dan tokoh masyarakat desa setempat lainnya menutup gereja dan memberikan surat pelarangan beribadah dan penutupan gereja.

    Kemudian tanggal 24 Juli 2004, datang rombongan BIN, Kasat Intel Kam, Kapolsek dan lain-lain meninjau lokasi rumah ibadah sambil minta keterangan kepada warga GKPS Simp TKA dan Pdt E Sinaga STh.

    Selanjutnya, 25 Juli 2007, panggilan rapat oleh Muspika Kec Jujuhan. Pada tanggal 26 Juli 2007 dilakukan rapat dan menghasilkan berita acara pembongkaran gereja.

    Dalam hasil kesepakatan itu, ada empat poin yakni bahwasannya pelaksanaan ibadah warga Jemaat GKPS Simp TKA dilaksanakan dari rumah ke rumah, bahwasannya warga GKPS pada tanggal 30 Juli 2007 pukul 10.00 wib siap membongkar gereja.

    Poin ketiga kesepakatan itu bahwasannya tidak akan dilakukan lagi pembangunan rumah ibadah dalam bentuk apa pun untuk kedepannya dalam wilayah Desa Rantau Ikil, Kecamatan Jujuhan.

    Poin keempat, apabila salah satu pihak melanggar kesepakatan ini maka pihak Muspika Kecamatan Jujuhan, Kepala Desa dan Perangkat Desa Rantau Ikil tidak bertanggung jawab terhadap apapun yang terjadi.

    Kesepakatan itu ditanda tangani oleh tiga perwakilan Warga GKPS Simp TKA, S Silalahi, J Damanik dan J Saragih. Sedangkan perwakilan desa Rantau Ikil, Kades Rt Ikil Yusri, H Anasri Tokoh Masyarakat Des Rantau Ikil, Rusni-Ketua Pemuda Desa Rt Ikil.

    Surat kesepakatan itu diketahui oleh, Camat Jujuhan, Danramil 416-02 Tanah Tumbuh-Kapten Inf Busril, Kapolsek Jujuhan-AKP A Farizal, Kantor Urusan Agama Kec Jujuhan Drs Hafiz dan Ketua Lembaga Adat Kecamatan Jujuhan M Amin HIB.

    Bantuan Korban

    Kejadian yang menimpa lima keluarga warga GKPS Simp TKA, Pengurus GKPS Resort Jambi tidak tinggal diam. Ratusan warga GKPS Jemaat Jambi dan simpatisan turt prihatin dan memberikan sumbangan.

    Rombongan Pdt JRR Purba STh, Sabtu (4/8) menuju GKPS Simpang TKA membawa bantuan berupa 10 karung pakai bekas layak pakai, 10 karung beras, 40 dus mie instan, obat nyakmuk, minyak goreng, kecap, pasta gigi dan peralatan dapur lainnya.

    Selain bantuan beruma sandang pangan, Pengurus GKPS Resort Jambi juga menyumbangkan uang tunai Rp 6,6 juta. Pengurus GKPS Resort Jambi juga membuka Posko Peduli GKPS Simpang TKA dengan alamat GKPS Jambi, JL.Lapangan Tembak (kapten Sujono) Kotabaru Jambi No.12. Kota Jambi. (Asenk Lee Saragih).
     

    Segera Lagu Simalungun

    SEGERA TERBIT....!!!!!!!!!!!

    ALBUM DAMMA


    " N I N I "
    TERBARU.......!!!!!!


     

    Festival Lagu Batak Se-Kalimantan Barat

    DEWAN Pimpinan Daerah (DPD) Kerukunan Masyarakat Batak (Kerabat) menyelenggaralan Festival Vokal Group Lagu–lagu Batak yang pesertanya terbuka untuk umum. Final acara yang akan digelar di Pontianak Convention Centre (PCC) pada 19 Oktober 2008 pukul 19.00. Acara ini dimeriahkan oleh penampilan khusus Joy Destiny Tiurma Tobing atau populer dengan panggilan Joy Tobing. Acara ini diikuti tidak hanya diikuti oleh etnis batak toba, batak simalungun, batak karo, batak nias, batak pakpak, dan batak mandailing saja, tapi juga diikuti oleh etnis lain seperti dayak ,cina dan melayu. Nah, special buat tulang ku “tomy saragih” ku berikan sebuah foto sepasang kekasih dari tanah Simalungun. Yang telah sukses menutup Festival Vokal Group Lagu–lagu Batak seKalBAr ini dengan sebuah tot-tor Simalungun hasil asuhan boru Damanik na jago on… panogolan mu satu nee……hehehe.



     

    7 Rumah Terbakar di Merek Raya,,SIMALUNGUN

    Sabtu, 02 Agustus 2008

    Api Diduga dari Ledakan Televisi

    Tujuh unit rumah terbakar di Huta Kristen Nagori Merekraya Kecamatan Pematang Raya Kabupaten Simalungun,
    Jumat (1/8) sekira pukul 10.00 WIB. Kerugian akibat kebakaran ditaksir mencapai Rp1 miliar.
    Informasi dihimpun METRO dari warga di lokasi kejadian, sebelum
    kebakaran terjadi, suasana huta (kampung) sedikit lengang. Sebab
    rata-rata warga sedang berada di ladang. Namun tiba-tiba terdengar
    teriakan seorang murid SD yang baru pulang sekolah.

    Murid SD yang memiliki nama panggilan Ucok itu, sedang melintas
    berjalan kaki menuju rumahnya. Tepatnya di depan rumah Jolden, yang
    diduga merupakan asal api, Ucok heran melihat ada kepulan asap tebal.
    Ucok menghampiri dan mengintip rumah yang sedang kosong itu. Dari luar,
    ia melihat bagian dalam rumah sudah banyak asap dan ada kobaran api
    dari televisi. Ucok yang menyaksikan kobaran api dan kepulan asap
    langsung berlari menuju bengkel milik Risjon Saragih sembari berteriak
    dan mengatakan ada kobaran api. Mendengar teriakan Ucok, Risjon keluar
    dari bengkel dan melihat api mulai membesar di rumah tetangganya. Ia
    pun segera mengemudikan salahsatu mobil langganannya untuk melaporkan
    kejadian tersebut ke Pplsek Raya dan menghubungi petugas pemadam
    kebakaran.

    Sementara itu,
    warga lainnya yang mendengar teriakan Ucok dan melihat
    Risjon panik, berusaha menyelamatkan harta benda dari dalam rumah.
    Bahkan rumah yang ditinggal pemiliknya terpaksa dirusak demi
    menyelamatkan benda-benda di dalam rumah.
    Namun karena angin bertiup sangat kencang serta terik matahari
    menyengat, api cepat membesar dan merambat ke bengkel dan rumah lain.
    Sehingga warga yang hendak menyelamatkan harta benda tidak bisa berbuat
    apa-apa dan hanya menyaksikan tujuh unit rumah berikut bengkel terbakar
    dengan cepat.

    Api Berkobar Selama 2 Jam
    Kebakaran berlangsung selama sekira dua jam. Petugas pemadam kebakaran
    baru tiba setelah hampir sekira satu jam api berkobar. Sebelum petugas
    datang, warga berusaha memadamkan api menggunakan peralatan seadanya,
    seperti air yang diambil menggunakan ember.
    Parahnya, satu unit mobil pemadan kebakaran datang hanya dengan tangki
    kosong, dan terpaksa terlebih dahulu mengambil air dari salahsatu
    sungai di Huta Hapoltakan Raya.

    Salahseorang warga di sekitar lokasi kejadian marah dan menuding
    lambannya petugas pemadam kebakaran datang. Entah ngapain datang kalau
    tangki tidak berisi air! Lamban kali petugasnya! Kenapa tidak distok
    air di dalam tangki, biar bisa cepat melakukan pemadaman? kata seorang
    pria berkumis dan berbadan tambun.

    Akhrinya setelah tiga kali bolak balik mengambil air dan mendapatkan
    bantuan dua unit mobil pemadam kebakaran, api dapat dipadamkan. Namun
    tujuh rumah berikut bengkel sudah hangus dilalap api. Tercatat, lima
    tangki air baru bisa menjinakkan api.


    Satu Rumah Dibongkar
    Selain tujuh unit rumah berikut bengkel yang terbakar, satu unit rumah
    lainnya yang terbuat dari papan, yakni milik Jahardin Saragih, terpaksa
    dibongkar warga untuk mengantisipasi api merambat lebih besar. Warga
    pun berusaha mengeluarkan barang-barang barang dari dalam rumah sembari
    berusaha melepaskan dinding rumah.

    Upaya warga yang merubuhkan rumah dipimpin Pangulu Nagori Merekraya,
    Jontam Purba. Jontam langsung mengoordinir warga yang terdiri atas
    pemuda dan kaum bapak. Sementara kaum ibu menangis histeris. Dalam
    waktu 30 menit, rumah itu berhasil dirubuhkan.
    Jalan Siantar-Saribu Dolok Macet

    Musibah kebakaran tersebut membuat jalan lintas Siantar-Saribu Dolok
    Nagori Merekraya Kecamatan Pematang Raya macet total. Sebab rumah yang
    terbakar tepat berada di sisi kiri jalan Siantar-Saribu Dolok.
    Warga dan beberapa pegawai negeri sipil (PNS) yang menuju Kantor
    Bupati berhamburan melihat rumah terbakar. Terlihat beberapa petugas
    berusaha mengatur arus lalu-lintas untuk mempermudah kendaraan
    melintas, dan memberikan jalan bagi mobil pemadam kebakaran yang
    beberapa kali lalu-lalang mengambil air.

    Sejumlah warga semakin panik karena beberapa kabel listrik terputus dan
    terjatuh membentang di jalan. Warga pun berhamburan karena takut
    terkena kabel mengeluarkan api. Satu Sepedamotor Terbakar
    Satu unit sepedamotor milik warga yang hendak diperbaiki di bengkel
    milik Risjon Saragih ikut terbakar. Selain itu, jagung dan kopi
    sebanyak empat ton ikut hangus, termasuk sejumlah peralatan bengkel
    berupa mesin genset, gerenda, tabung las karbit, dan las listrik.

    Sementara itu, rumah P br Damanik, ibu Risjon Saragih (pemilik bengkel)
    mengalami kerugian sangat besar, yakni sekitar Rp400 juta. Hal ini
    dikatakan Pangulu Nagori Merekraya, Jotaman Purba.
    Dikatakan Jotaman, rumah J Sinaga warga Jakarta yang berasal dari
    Nagori Merekraya yang ditaksir senilai Rp250 juta ikut terbakar
    berikut harta benda di dalam rumah. Masih kata Jotaman, selain
    berusaha menyelamatkan harta benda dan memadamkan api, warga juga
    mendirikan posko bantuan. Sementara para korban yang rumahnya terbakar,
    untuk sementara diungsikam di rumah tetangga.

    Api Diduga dari Ledakan Televisi
    Hampir dipastikan, api yang menghanguskan tujuh unit rumah berasal dari
    ledakan televisi yang korsleting karena masih terhubung dengan aliran
    listrik, di rumah Jolden Saragih.
    Diduga, sejak malam hingga siang, pemilik rumah tidak mencabut stop contact televisi dari aliran listrik.

    Berusaha Tegar....
    Meski sangat berduka, namun anak salahsatu korban yang rumahnya
    terbakar berusaha tetap tegar. R Saragih (44), putra P br Damanik, yang
    tinggal di seberang jalan rumah ibunya, mengaku tidak menduga rumah
    peninggalan almarhum ayahnya, yang selama ini dijadikan bengkel las dan
    tempat penyimpanan hasil bumi, sudah rata dengan tanah hanya dalam
    waktu singkat.

    Dikatakannya, sebelum peristiwa itu terjadi, ia sedang bersiap-siap
    menuju Pematangsiantar untuk menyelesaikan suatu urusan. Ketika dirinya
    meninggalkan rumah, istri dan ibunya sedang bercerita di salahsatu
    ruangan di rumah yang juga berfungsi sebagai bengkel itu.
    Namun Saragih berusaha tegar. Ia tak ingin ibunya stres dan jatuh
    sakit. Saya akan berusaha tegar. Saya tidak ingin mamak sakit;ucapnya.

    Pemilik Rumah yang Terbakar

    1. Jonatan Sinaga
    2. Barmen Purba
    3. Lesmen Damanik
    4. P Br Damanik Pemilik bengkel yang dikelola anaknya Risjon Saragih
    5. Julden Saragih Duga api berasal dari ledakan televisi di rumahnya
    6. J Sinaga Warga Jakarta asal Merekraya
    7. Johardin Saragih Rumahnya terpaksa dibongkar

     

    manortor













     

    PARTUTURANNI SIMALUNGUN

    Tuturbisa diterjemahkan sebagai panggilan yang digunakan masyarakat Simalungun sebagai sebutan untuk/kepada orang tertentu.

    Perkerabatan Simalungun
    Orang Simalungun tidak terlalu mementingkan soal “silsilah” karena penentu partuturan di Simalungun adalah “hasusuran” (tempat asal nenek moyang) dan tibalni parhundul (kedudukan/peran) dalam horja-horja adat (acara-acara adat). Hal ini bisa dilihat saat orang Simalungun bertemu, bukan langsung bertanya “aha marga ni ham?” (apa marga anda) tetapi “hunja do hasusuran ni ham (dari mana asal-usul anda)?"
    Hal ini dipertegas oleh pepatah Simalungun “Sin Raya, sini Purba, sin Dolog, sini Panei. Na ija pe lang na mubah, asal ma marholong ni atei” (dari Raya, Purba, Dolog, Panei. Yang manapun tak berarti, asal penuh kasih). Kenapa? Karena seluruh marga raja-raja Simalungun itu diikat oleh persekutuan adat yang erat oleh karena konsep perkawinan antara raja dengan “puang bolon” (permaisuri) yang adalah puteri raja tetangganya. Seperti raja Tanoh Djawa dengan puang bolon dari Kerajaan Siantar (Damanik), raja Siantar yang puang bolonnya dari Partuanan Silappuyang, raja Panei dari putri raja Siantar, raja Silau dari putri raja Raya, raja Purba dari putri raja Siantar dan Silimakuta dari putri raja Raya atau Tongging.
    Adapun Perkerabatan dalam masyarakat Simalungun disebut sebagai Partuturan. Partuturan ini menetukan dekat atau jauhnya hubungan kekeluargaan (pardihadihaon), dan dibagi kedalam beberapa kategori sebagai berikut:

    1. Tutur Manorus / Langsung
    Perkerabatan yang langsung terkait dengan diri sendiri.
    Ompung: Orangtua Ayah atau Ibu, Saudara (Kakak/Adik) dari orangtua Ayah atau Ibu
    Bapa/Amang: Ayah
    Inang: Ibu
    Abang: Saudara lelaki yang lahir lebih dulu dari kita.
    Anggi: Adik lelaki; saudara lelaki yang lahir setelah kita.
    Botou: Saudara perempuan (baik lebih tua atau lebih muda).

    Amboru: Saudara perempuan Ayah; Saudara perempuan pariban Ayah; Saudara perempuan Mangkela: Bagi wanita: orangtua dari Suami kita; Amboru dari suami kita; atau mertua dari Saudara Ipar perempuan kita.
    Mangkela: Suami dari saudara perempuan dari Ayah
    Tulang: Saudara lelaki Ibu; Saudara lelaki pariban Ibu; Ayah dari besan
    Anturang: Istri dari Tulang; Ibu dari besan
    Parumaen: Istri dari Anak; Istri dari Keponakan; Anak Perempuan dari Saudara Perempuan Istri; Amboru dan Mangkela kita memanggil istri kita Parumaen
    Nasibesan: Istri dari Saudara (Ipar) lelaki dari Istri kita atau saudara Istri kita
    Hela: Suami dari Puteri kita; Suami dari Puteri dari kakak/adik kita
    Gawei/Eda: Hubungan Wanita dengan Istri Saudara Lelakinya
    Lawei: Istri dari Saudara Lelaki
    Botoubanua: Puteri Amboru; Bagi wanita: Putera Tulang

    Pahompu: Cucu; Anak dari Botoubanua; Anak Pariban
    Nono: Pahompu dari Anak (Lelaki)
    Nini: Pahompu dari Boru
    Sima-sima: Anak dari Nono/Nini
    Siminik: Pahompu dari Nono/Nini

    2. Tutur Holmouan / Kelompok
    bersambung.....!!!!!




     

    Presiden S B Y berkunjung ke Simalungun

    Presiden Susilo Bambang Yudhoyo
    direncanakan akan melakukan kunjungan kerja di Kab। Simalungun pada Juli 2008
    mendatang.


    Informasi itu dikemukakan Bupati Simalungun, Zulkarnain Damanik, Kamis (3/4), kepada wartawan. “ Kunjungan
    SBY dalam rangka panen raya padi sawah seluas 1.300 hektar di Panombean Panei dan peresmian Pematang Raya
    menjadi ibukota Kabupaten Simalungun,” terang bupati.


    Dalam rangka rencana kunjungan Presiden, Bupati Simalungun bersama Sekab, Asisten Tata Pemerintahan, Asisten
    Ekbang, Asisten Administrasi dan Bintur, Kadis Pertanian, Kadis Perkimbangwil, Ka.BP3K, Kabag Tapem, Kabag
    Pembangunan, Kabag Humasy dan Protokol, para pimpinan instansi teknis terkait, Camat Raya dan Camat Panambeian
    Pane, telah mengelar rapat koordinasi untuk membahas persiapan panen raya dan peresmian ibukota kabupaten.


    Zulkarnain mengemukakan, kunjungan SBY ke Simalungun merupakan suatu penghargaan yang tinggi bagi masyarakat
    Simalungun sendiri. Sebelumnya memang pernah ada rencana SBY turun ke Simalungun, namun karena berbagai hal,
    SBY tidak jadi datang dan digantikan Menteri Pertanian. “Kedatangan presiden harus disambut dengan baik. Ini
    suatu penghargaan yang tinggi bagi masyarakat Kabupaten Simalungun,” tutur Bupati.


    Menurut Bupati, hal yang paling penting yang harus di persiapkan adalah lokasi pelaksanaan panen raya di Kecamatan
    Panambeian Pane dan kota Pematang Raya sebagai ibukota Kabupaten Simalungun seperti infrastruktur jalan menuju
    lokasi, penataan kota dan sarana pendukung lainnya.


    Kepada Instansi teknis diharapkan untuk bekerja ekstra keras, sehingga kedatangan Presiden ke daerah Simalungun
    dapat berjalan dengan baik. Kepada masyarakat, Bupati berharap untuk memberikan dukungan terutama dalam
    menjaga situasi keamanan yang kondusif di daerah, apalagi dalam bulan April ini, Prov. Sumut akan melaksanakan
    Pilkada Gubernur Sumatera Utara.


    Di sisi lain Bupati mengatakan, perpindahan pusat Pemerintahan Kab. Simalungun seharusnya dilaksanakan pada April
    ini, namun mengingat pada bulan ini akan dilaksanakan Pilkadasung Gubsu, maka perpindahan baru dapat
    dilaksanakan pada Juni 2008 mendatang.


    Kemudian, lanjut Bupati, sebelum memasuki kantor baru, terlebih daluhu akan dilaksanakan pesta adat Simalungun
    (Mamokkot Rumah Na Bayu) direncanakan pada 2 s/d 5 Juni 2008 yang rencananya dilaksanakan di halaman kantor
    Bupati Simalungun yang baru di Kecamatan Raya. (a15)

    Waspada Online
     

    Dukung Pemekaran Simalungun

    Forum Peduli Ibukota Pematang Raya Unjuk Rasa ke DPRD


    Simalungun (SIB)
    Seratusan orang yang menamakan diri Forum Peduli Ibukota Pematang Raya (FPIPR) Simalungun, Kamis (29/11) dengan kordinator aksi Hermanto Sipayung SH berunjuk rasa ke DPRD Simalungun dan kantor Bupati untuk menyampaikan aspirasi mendukung pemekaran Simalungun jadi dua Kabupaten, seraya meminta agar terlebih dulu kantor Bupati dipindahkan dari Siantar ke Sondi Raya, Kecamatan Raya.

    Tuntutan pengunjuk rasa agar segera dipindahkannya kantor Bupati ke Raya adalah sesuai dengan PP No 70 tahun 1999 yang menetapkan bahwa ibukota Kabupaten Simalungun di Sondi Raya, Kecamatan Raya, namun hingga kini belum terealisasi. “Kami tidak anti pemekaran, bahkan mendukung, tapi segeralah dulu dipindahkan ibukota Simalungun ke Raya”, teriak pengunjuk rasa melalui pengeras suara.

    Komisi I DPRD Simalungun yang membidangi pemerintahan, menjumpai pengunjuk rasa ke halaman kantor DPRD untuk menyahuti aspirasi pengunjuk rasa. Ketua komisi I, Ir H Iskandar Sinaga dan anggota Tapa Siboro bergantian memberikan tanggapan dan arahan di hadapan pengunjuk rasa dengan senyum simpatik. Juga ikut anggota komisi I lainnya Makmur Damanik dan Asmuni Saragi.

    Disebutkan, DPRD Simalungun akan ikut “unjuk rasa” bersama rakyat kepada Bupati, jika Bupati dan jajarannya tidak pindah kantor ke Pematang Raya April 2008, sesuai janji Bupati dalam rapat paripurna DPRD Simalungun baru-baru ini.
    DPRD Simalungun juga sudah siap untuk berkantor ke Pematang Raya April 2008, sebab sarana kantor saat ini sudah tinggal pembenahan, kata Iskandar Sinaga dan Tapa Siboro yang disambut tepuk tangan pengunjuk rasa.

    Seusai menerima pengunjuk rasa, Ir H Iskandar Sinaga menyebutkan bahwa proses pemekaran Simalungun jadi dua kabupaten akan tetap jalan 7 fraksi di DPRD Simalungun sudah menyetujuinya. “Langkah mundur kalau ada yang menolak pemekaran. Coba bandingkan, sebelum Taput dimekarkan jadi 4 kabupaten, APBD nya lebih kecil dari Simalungun. Kini dengan pemekaran jadi empat daerah otonom, APBD eks Taput itu sudah mencapai Rp 1,6 triliun, sementara Simalungun masih Rp 770 milyar/tahun,” sebutnya.
    Panitia pemekaran Simalungun Drs Sarmedi Purba yang dihubungi SIB via ponselnya menyebutkan, pemekaran sudah jadi milik rakyat Simalungun yang disalurkan melalui semua partai yang duduk di DPRD. “Habonaron do bona, kita masyarakat bukan hanya dari Saribudolok ke Perdagangan, tapi ke seluruh nusantara”, katanya.

    Ketua Pansus pemekaran di DPRD Simalungun Janter Sirait SE, melalui ponselnya menyebutkan aspirasi minta segera pindah kantor Bupati ke Raya adalah wajar dan akan direalisasi selambat-lambatnya April 2008, dan proses pemekaran juga harus jalan terus, karena sudah kebutuhan daerah ini. Anggaran untuk pemekaran inipun bukan dari APBD, tapi dari masyarakat yang peduli pemekaran melalui “malam dana” yang akan digelar, Jumat (30/11) di Restoran Internasional proses P Siantar. Yang bisa ditampung dalam APBD hanya biaya tim memfasilitasi proses pemekaran itu dan tidak sampai Rp 100 juta.

    Setelah dari DPRD, pengunjuk rasa mendatangi kantor Bupati untuk menyampaikan aspirasi yang sama. Asisten I Drs Oberlin Hutagaol yang menerima, menyebutkan bahwa kantor Bupati akan pindah ke Raya April 2008 mendatang.
     
     
    Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
    Copyright © 2011. SIMALUNGUN-KU..? - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website Published by Mas Template
    Proudly powered by Blogger